Beberapa Larangan Yang Terkait Dengan Lisan
بسم الله الرحمن الرحيم
Beberapa Larangan Yang Terkait Dengan Lisan
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya sampai hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini beberapa larangan yang terkait dengan mulut semoga kita ketahui dan kita jauhi, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini tulus karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Beberapa larangan yang terkait dengan lisan
1. Larangan bersaksi palsu.
2. Larangan menuduh berzina perempuan yang baik-baik.
3. Larangan menuduh orang yang tidak bersalah.
4. Larangan buhtan (membuat-buat kebohongan).
5. Larangan mencela atau merendahkan insan baik dengan kata-kata (hamz), maupun dengan perilaku (lamz).
6. Larangan memanggil dengan gelaran yang buruk yang tidak disukai oleh pendengar.
8. Larangan melaksanakan namimah (adu domba).
9. Larangan mengolok-olok kaum muslim.
10. Larangan berbangga-bangga dengan kedudukan dan nasab.
11. Larangan meninggikan ajakan Jahiliyyah, ibarat fanatisme golongan.
12. Larangan memulai salam kepada orang kafir.
13. Larangan bangkit dari kawasan duduk untuk keluar tanpa meminta izin kepada pemilik rumah, saat seseorang mengunjungi rumahnya.
14. Larangan mencela nasab.
15. Larangan mencaci-maki.
16. Larangan menjelek-jelekkan orang lain.
17. Larangan berkata kotor dan kasar.
18. Larangan suka melaknat.
19. Larangan berkata buruk.
20. Larangan mengeraskan kata-kata buruk (seperti mencela, membuktikan keburukan-keburukan orang lain, dsb.) kecuali bagi orang yang teraniaya.
21. Larangan berkata dusta, dan di antara dusta yang paling besar yaitu berdusta atas nama Allah Ta'ala, berdusta atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan berdusta dalam mimpi dengan mengaku bermimpin ini dan itu dengan maksud untuk mendapat kedudukan, laba materi, menakut-nakuti, dsb.
22. Larangan menganggap diri bersih.
23. Larangan dua orang berbisik-bisik meninggalkan orang ketiga jikalau terdiri dari tiga orang, sebab yang demikian akan menciptakan orang ketiga sedih.
24. Larangan berbisik-bisik yang mengandung dosa dan permusuhan.
25. Larangan melaknat orang mukmin dan melaknat orang yang tidak berhak dilaknat.
26. Larangan meninggikan bunyi melebihi bunyi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Termasuk pula mengeraskan bunyi melebihi bunyi orang yang membaca hadits, dan mengeraskan bunyi di akrab kubur Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
27. Larangan memaki orang yang telah mati.
28. Larangan memaki ayam sebab dia berkokok untuk membangunkan orang shalat.
29. Larangan memaki angin sebab dia mendapat perintah.
30. Larangan memaki demam, sebab dia membersihkan dosa.
31. Larangan memaki setan, sebab dia akan semakin sombong. Sikap yang benar yaitu meminta sumbangan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari kejahatannya.
32. Larangan berdoa meminta diwafatkan.
33. Larangan berangan-angan ingin mati sebab peristiwa alam yang menimpanya.
34. Larangan mendoakan keburukan kepada diri, anak, pembantu, dan harta.
35. Larangan menamai anggur dengan karm (mulia), sebab kaum Jahiliyyah menganggap bahwa arak sanggup menumbuhkan perilaku karm. Padahal yang karm yaitu orang mukmin.
36. Larangan seseorang menyampaikan terhadap dirinya, "Khabutsat nafsi," (artinya: Buruk sekali diriku), tetapi hendaknya dia ganti dengan, "Laqisat nafsi," (artinya: Diriku sedang merasa sempit).
37. Larangan seseorang berkata, "Aku lupa ayat ini atau itu," bahkan seharusnya dia mengatakan, "Aku melupakan ayat ini atau itu."
38. Larangan mengatakan, "Ya Allah, ampunilah saya jikalau Engkau menghendaki," bahkan hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam berdoa dan meminta.
39. Larangan menunjukkan gelar "Sayyid" kepada orang munafik.
40. Larangan menjelek-jelekkan, terutama suami kepada istri, ibarat mengatakan, "Semoga Allah menjelekkan dirimu."
41. Larangan mengatakan, "Raa'inaa" (perhatikanlah kami), tetapi hendaknya dia ganti dengan, "Unzhurnaa" yang artinya sama dengan sebelumnya, namun tidak menjadikan kesan yang lain yang buruk.
42. Larangan bertanya sebelum memberi salam.
43. Larangan memberi izin kepada orang yang tidak memulai pembicaraannya dengan salam.
44. Larangan saling memuji.
45. Larangan menasabkan diri kepada yang bukan ayahnya.
46. Larangan mengatakan, "Saya, saya," saat ditanya oleh pemilik rumah, "Siapa ini?"
Wallahu a'lam wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji': Al Manhiyyat Asy Syar'iyyah (M. bin Shalih Al Munajjid), Mukhtashar Al Kaba'ir, Maktabah Syamilah versi 3.35, dll.
0 Response to "Beberapa Larangan Yang Terkait Dengan Lisan"
Post a Comment