-->

Asy Syekh al Quthub Abil Hasan asy Syadzily


Kelahiran, Nasab dan Masa Kecil Syekh Abil Hasan Asy Syadzily

Asy Syekh al Imam al Quthub al Ghouts Sayyidinasy Syarif Abil Hasan Ali asy Syadzily al Hasani bin Abdullah bin Abdul Jabbar, terlahir dari rahim sang ibu di sebuah desa bernama Ghomaroh, tidak jauh dari kota Saptah, negeri Maghrib al Aqsho atau Marokko, Afrika Utara serpihan ujung paling barat, pada tahun 593 H / 1197 M. beliau merupakan dzurriyat atau keturunan ke dua puluh dua dari junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, dengan urut-urutan sebagai berikut,
Syekh Abil Hasan Ali asy Syadzily bin Abdullah bin Abdul Jabbar bin Tamim bin Hurmuz bin Khotim bin Qushoyyi bin Yusuf bin Yusa' bin Wardi bin debu Baththal bin Ali bin Ahmad bin Muhammad bin 'Isa bin Idris al Mutsanna bin Umar bin Idris bin Abdullah bin Hasan alMutsanna bin Hasan bin Ali bin bubuk Thalib wa Sayyidatina Fathimah az Zahro' binti Rosulillaah Muhammadin SAW.

Sejak kecil dia biasa dipanggil dengan nama: 'ALI, sudah dikenal sebagai orang yang mempunyai akhlaq atau kecerdikan pekerti yang amat mulia. Tutur katanya sangat fasih, halus, indah dan santun, serta mengandung makna pengertian yang dalam. Di samping memiliki harapan yang tinggi dan luhur, ia juga tergolong orang yang memiliki kegemaran menuntut ilmu. Di desa tempat kelahirannya ini, Beliau mendapat tempaan pendidikan akhlaq serta cabang ilmu-ilmu agama lainnya langsung di bawah bimbingan ayah-bunda ia. dia tinggal di desa tempat kelahirannya ini hingga usia 6 tahun, yang kemudian pada akhirnya hijrah ke kota Tunis (sekarang ibu kota negara Tunisia, Afrika Utara) yang semata-mata hanya untuk tujuan tholabul 'ilmi di samping untuk menggapai keinginan luhur Beliau menjadi orang yang memiliki kedekatan dan derajat kemuliaan di sisi Allah SWT.
Beliau sampai di kota Tunis, sebuah kota pelabuhan yang terletak di tepi pantai bahari Tengah, pada tahun 599 H / 1202 M. Di suatu hari Jumat, dia pernah ditemui oleh Nabiyyullah Khidlir 'alaihissalam, yang mengatakan bahwa kedatangannya pada saat itu ialah diutus untuk menyampaikan keputusan Allah SWT atas diri Beliau yang pada hari itu telah dinyatakan dipilih menjadi kekasih Robbul 'Alamin dan sekaligus diangkat sebagai Wali Agung dikarenakan beliau mempunyai budi luhur dan akhlaq mulia.

Segera setelah pertemuan dengan Nabiyyullah Khidir a.s. tersebut, ia segera menghadap Syekh Abi Said al Baji, rokhimahullah, salah seorang ulama besar di Tunis pada waktu itu, dengan maksud untuk mengemukakan segala bencana yang Beliau alami sepanjang hari itu. Akan tetapi pada saat sudah berada di hadapan Syekh Abi Said, sebelum dia mengungkapkan apa yang menjadi maksud dan tujuannya menghadap, ternyata Syekh Abi Said al Baji sudah terlebih dahulu dengan terang dan runtut menguraikan wacana seluruh perjalanan ia semenjak keberangkatannya dari rumah hingga diangkat dan ditetapkannya dia sebagai Wali Agung pada hari itu. semenjak ketika itu ia tinggal bersama Syekh Abi Said sampai beberapa tahun guna menimba banyak sekali cabang ilmu agama. Dari Syekh Abi Said ia banyak belajar ilmu-ilmu wacana Al Qur'an, hadits, fiqih, akhlaq, tauhid, beserta ilmu-ilmu alat. Selain itu, lantaran kedekatan dia dengan sang guru, dia juga berkesempatan mendampingi Syekh Abi Said menunaikan ibadah haji ke Mekkah al Mukarromah hingga beberapa kali. Namun, setelah sekian tahun menuntut ilmu, beliau merasa bahwa seluruh ilmu yang dimilikinya, mulai dari ilmu fiqih, tasawwuf, taukhid, sampai ilmu-ilmu tentang al Qur'an dan hadist, semuanya itu ia rasakan masih pada tataran syariat atau kulitnya saja. Karena itu dia berketetapan hati untuk segera menemukan jalan (thoriqot) itu sekaligus pembimbing (mursyid)-nya dari seorang Wali Quthub yang mempunyai kewenangan untuk memandu perjalanan ruhaniyah beliau menuju ke hadirat Allah SWT ? Maka dengan tekad yang besar lengan berkuasa ia memberanikan diri untuk berpamitan sekaligus memohon doa restu kepada sang guru, syekh Abi Said al Baji, untuk pergi merantau demi mencari seseorang yang berkedudukan sebagai Quthub.

Perantauan Mencari Sang Quthub

Tempat pertama yang dituju oleh beliau yaitu kota Mekkah yang merupakan pusat peradaban Islam dan tempat berhimpunnya para ulama dan sholihin yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia untuk memperdalam aneka macam cabang ilmu-ilmu agama. Namun setelah berbulan-bulan tinggal di Mekkah, beliau belum juga berhasil menemukan orang yang dimaksud. hingga akibatnya pada suatu seat Beliau memperoleh keterangan dari beberapa ulama di Mekkah bahwa Sang Quthub yang ia cari itu kemungkinan ada di negeri Iraq yang berjarak ratusan kilo meter dari kota Mekkah.
Sesampainya di Iraq, dengan tidak membuang-buang waktu, segeralah ia bertanya ke sana-sini tentang seorang Wali Quthub yang dia cari kepada setiap ulama dan masyayikh yang berhasil ia temui. Akan tetapi, mereka semua rata-rata menyatakan tidak mengetahui eksistensi seorang Wali Quthub di negeri itu.
Memang sepeninggal Sulthonil Auliya'il Quthbir Robbani wal Ghoutsish Shomadani Sayyidisy Syekh abu Muhammad Abdul Qodir al Jilani, rodliyallahu 'anh, kedudukan Wali Quthub yang menggantikan Syekh Abdul Qodir Jilani oleh Allah disamarkan atau tidak dinampakkan dengan jelas. Pada waktu kedatangan Syekh Abil Hasan ke Baghdad itu, Syekh Abdul Qodir Jailani (470 - 561 H./1077 - 1166 M.) sudah wafat sekitar 50 tahun sebelumnya (selisih waktu antara wafatnya Syekh Abdul Qodir dan lahirnya Syekh Abil Hasan terpaut sekitar 32 tahun). Di abad hidupnya, asy Syekh. Abdul Qodir diakui oleh para ulama minash Shiddiqin sebagai seorang yang berkedudukan "Quthbul Ghouts".
Akhirnya, Beliau mendengar adanya seorang ulama yang merupakan seorang pemimpin dan khalifah thoriqot Rifa'iyah yaitu asy Syekh ash Sholih bubukl Fatah al Wasithi, rodliyAllahu 'anh. Syekh abul Fatah adalah, yang mempunyai imbas dan pengikut cukup besar di Iraq pada waktu itu. Segeralah ia sowan kepada Syekh debul Fatah dan mengemukakan bahwa dia sedang mencari seorang Wali Quthub yang akan ia minta kesediaannya untuk menjadi pembimbing dan pemandu perjalanan ruhani dia menuju ke hadirat Allah SWT.
Mendengar penuturan ia, asy Syekh abul Fatah sembari tersenyum kemudian mengatakan, "Wahai anak muda, engkau mencari Quthub jauh jauh hingga ke sini, padahal orang yang engkau cari bahu-membahu berada di negeri asalmu sendiri. beliau adalah seorang Quthubuz Zaman nan Agung pada saat ini. sekarang pulanglah engkau ke Maghrib (Maroko) dari pada bersusah payah berkeliling mencari di negeri ini. dia, pada saat ini sedang berada di tempat khalwatnya, di sebuah gua di puncak gunung. Temuilah yang engkau cari di sana!"

Berguru Kepada Sang Quthub

Beberapa saat setelah mendapat klarifikasi dari Syekh debul Fatah al Wasithi, dia segera mohon diri sekaligus minta doa restu agar beliau bisa segera berhasil menemukan sang Quthub yang sedang dicarinya. Sesampainya di Maroko, ia langsung menuju ke desa Ghomaroh, tempat di mana beliau dilahirkan. Tidak berapa usang kemudian, ia segera bertanya-tanya kepada penduduk setempat maupun setiap pendatang di manakah tinggalnya sang Quthub. Hampir setiap orang yang dia temui selalu ditanyai wacana eksistensi sang Quthub. balasannya setelah cukup usang mencari didapatlah keterangan bahwa orang yang dimaksud oleh Syekh bubukl Fatah tiada lain adalah Sayyidisy Syekh ash Sholih al Quthub al Ghouts asy Syarif abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy al Hasani, yang pada saat itu sedang berada di tempat pertapaannya, di suatu gua yang letaknya di puncak sebuah gunung di padang Barbathoh. Demi mendengar keterangan itu, sama seperti yang dijelaskan oleh Syekh bubukl Fatah al Wasithi al Iraqi, segera saja Beliau menuju ke tempat yang ditunjukkan itu.
Setelah melakukan perjalanan yang memakan waktu beberapa hari, akhirnya ditemukanlah gunung yang dimaksud. beliau segera mendaki gunung itu menuju ke puncaknya. Dan, memang benar adanya, di puncak gunung tersebut terdapat sebuah gua. Sebelum ia melanjutkan perjalanannya untuk naik ke gua itu, ia berhenti di sebuah mata air yang terdapat di bawah gua tersebut. Selanjutnya ia kemudian mandi di pancuran mata air itu. Hal ini beliau lakukan semata-mata demi untuk memberikan penghormatan serta untuk mengagungkan sang Quthub, sebagai salah seorang yang mempunyai derajat kcmuliaan dan keagungan di sisi Robbul 'alamin, disamping juga sebagai seorang calon guru dia. Begitu setelah simpulan mandi, Beliau merasakan betapa seluruh ilmu dan amal beliau seakan luruh berguguran. Dan seketika itu pula ia merasakan kini dirinya telah menjadi seorang yang benar-benar faqir dari ilmu dan amal. Kemudian, setelah itu dia kemudian berwudlu dan mempersiapkan diri untuk naik menuju ke gua tersebut. Dengan penuh rasa tawadhu' dan rendah diri, ia mulai mengangkat kaki untuk keluar dari mata air itu.
Namun, entah datang dari arah mana, tiba-tiba datang seseorang yang tampak sudah lanjut usia. Orang tersebut mengenakan pakaian yang amat sederhana. Bajunya penuh dengan tambalan. Sebagai epilog kepala, orang sepuh itu mengenakan songkok yang terbuat dari anyaman jerami. Dari sinar wajahnya memperlihatkan bahwa orang tersebut memiliki derajat kesholihan dan ketaqwaan yang amat luhur. Kendati berpenampilan sederhana, tetapi orang tersebut tampak sangat bagus, arif, dan berwibawa. Kakek bau tanah itu kemudian mendekati ia seraya mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum”. beliau, dengan agak sedikit terkejut, serta merta menjawab salam orang itu, "Wa 'alaikumus salam wa rokhmatullohi wa barokatuh." Belum pula habis rasa keterkejutan beliau, orang tersebut terlebih dahulu menyapa dengan mengatakan, "Marhaban! Ya, Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar bin Tamim bin...." dan seterusnya nasab beliau disebutkan dengan runtut dan terperinci sampai akhirnya berujung kepada baginda Rosululloh, shollollohu 'alaihi wa aalihi wa sallam. Mendengar itu semua, ia menyimaknya dengan penuh rasa takjub. Belum hingga dia mengeluarkan kata-kata, orang tersebut kemudian melanjutkan, "Ya Ali, engkau datang kepadaku sebagai seorang faqir, baik dari ilmu maupun amal perbuatanmu, maka engkau akan mengambil dari saya kekayaan dunia dan akhirat." Dengan demikian, maka Kaprikornus jelas dan yakinlah beliau kini, bahwa orang yang sedang berada di hadapannya itu adalah benar-benar asy Syekh al Quthub al Ghouts Sayyid abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy al Hasani, rodhiyAllahu 'anh, orang yang selama ini dicari-carinya. "Wahai anakku, hanya puji syukur alhamdulillah kita haturkan ke hadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita pada hari ini." Berkata Syekh Abdus Salam lagi, "Ketahuilah, wahai anakku, bahwa sesungguhnya sebelum engkau tiba ke sini, Rosululloh SAW telah memberitahukan kepadaku segala hal-ihwal perihal diri¬mu, serta akan kedatanganmu pada hari ini. Selain itu, aku juga mendapat tugas dari ia agar memberikan pendidikan dan bimbingan kepada engkau. Oleh karena itu, ketahuilah, bahwa kedatanganku ke sini memang sengaja untuk menyambutmu".
Selanjutnya, Beliau tinggal bersama dengan sang guru di situ hingga waktu yang cukup lama. Beliau banyak sekali mereguk ilmu-ilmu ihwal hakikat ketuhanan dari Syekh Abdus Salam, yang selama ini belum pernah ia mampukan. Tidak sedikit pula wejangan dan hikmah-nasihat yang asy Syekh berikan kepada dia.
Pada suatu hari dikatakan oleh asy Syekh kepada dia, "Wahai anakku, hendaknya engkau semua senantiasa melanggengkan thoharoh (mensucikan diri) dari syirik. Maka, setiap engkau berhadats cepat-cepatlah bersuci dari 'kenajisan cinta dunia'. Dan setiap kali engkau condong kepada syahwat, maka perbaikilah apa yang hampir menodai dan menggelincirkan dirimu."
Berkata asy Syekh Ibn Masyisy kepada dia, "Pertajam pengelihatan imanmu, niscaya engkau akan mendapatkms Allah; Dalam segala sesuatu; Pada sisi segala sesuatu; Bersama segala sesuatu; Atas segala sesuatu; Dekat dari segala sesuatu; meliputi segala sesuatu; Dengan pendekatan itulah sifatNya; Dengan meliputi itulah bentuk keadaanNya."
Di lain waktu guru beliau, rodhiyallahu 'anh, itu mengatakan, "Semulia-mulia amal adalah empat disusul empat : KECINTAAN demi untuk Allah; RIDHO atas ketentuan Allah; ZUHUD terhadap dunia; dan TAWAKKAL atas Allah.
Kemudian disusul pula dengan empat lagi, yakni MENEGAKKAN fardhu-fardbu Allah; MENJAUHI larangan-laranganAllah; BERSABAR terhadap apa-apa yang tidak berarti; dan
WARO' menjauhi dosa-dosa kecil berupa segala sesuatu yang melalaikan".
Asy Syekh juga pernah berpesan kepada. dia, "Wahai anakku, janganlah engkau melangkahkan kaki kecuali untuk Allah, sesuatu yang dapat mendatangkan kcridhoan Allah, dan jangan pula engkau duduk di suatu majelis kecuali yang aman dari marah Allah. Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang yang bisa membantu engkau berlaku taat kepada-Nya. Serta jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang mampu menambah keyakinanmu terhadap Allah”.
Asy Syekh Abdus Salam sendiri adalah merupakan pribadi yang amat berpegang teguh kepada Kitab Allah dan as Sunnah. Walaupun pada kenyataannya Syekh Abil Hasan adalah muridnya, namun Syekh Abdus Salam juga amat mengagumi akan ilmu yang dimiliki oleh sang murid, terutama perihal Kitabullah dan Sunnah, disamping derajat kesholihan dan kewaliannya, serta kekeramatan Syekh debul Hasan.
Tetapi, dari semua yang beliau terima dari asy Syekh, hal yang terpenting dan paling bersejarah dalam kehidupan ia di kemudian hari ialah diterimanya ijazah dan bai'at sebuah thoriqot dari asy Syekh Abdus Salam yang rantai silsilah thoriqot tersebut sambung-menyambung tiada putus sampai akhirnya berujung kepada Allah SWT. Silsilah thoriqot ini urut-urutannya yaitu sebagai berikut :
Beliau, asy Syekh al Imam Abil Hasan Ali asy Syadzily mendapat bai'at thoriqot dari :
1. Asy Syekh al Quthub asy Syarif Abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy, beliau menerima talgin dan bai'at dari
2. Al Quthub asy Syarif Abdurrahman al Aththor az Zayyat al Hasani al Madani, dari
3. Quthbil auliya' Taqiyyuddin al Fuqoyr ash Shufy, dari
4. Sayyidisy Syekh al Quthub Fakhruddin, dari
5. Sayyidisy Syekh al Quthub NuruddinAbil HasanAli, dari
6. Sayyidisy Syekh Muhammad Tajuddin, dari
7. Sayyidisy Syekh Muhammad Syamsuddin, dari
8. Sayyidisy Syekh al Quthub Zainuddin al Qozwiniy, dari
9. Sayyidisy Syekh al Quthub Abi Ishaq Ibrohim al Bashri, dari
10. Sayyidisy Syekh al Quthub Abil Qosim Ahmad al Marwani, dari
11. Sayyidisy Syekh debu Muhammad Said, dari
12. Sayyidisy Syekh Sa'ad, dari
13. Sayyidisy Syekh al Quthub Abi Muhammad Fatkhus Su'udi, dari
14. Sayyidisy Syekh al Quthub Muhammad Said al Ghozwaniy, dari
15. Sayyidisy Syekh al Quthub Abi Muhammad Jabir, dari
16. Sayyidinasy Syarif al Hasan bin Ali, dari
17. Sayyidina'Ali bin Abi Tholib, karromallahu wajhah, dari
18. Sayyidina wa Habibina wa Syafi'ina wa Maulana Muhammadin, shollollohu 'alaihi wa aalihi wasallam, dari
19. Sayyidina Jibril, 'alaihis salam, dari
20. Robbul 'izzati robbul 'alamin.
Setelah menerima anutan dan baiat thoriqot ini, dari hari ke hari beliau mencicipi semakin terbukanya mata hati beliau. ia banyak menemukan belakang layar-rahasia Ilahiyah yang selama ini belum pernah dialaminya. semenjak dikala itu pula dia semakin merasakan dirinya kian dalam menyelam ke dasar samudera hakekat dan ma'rifatulloh. Hal ini, selain berkat dari keagungan ajaran thoriqot itu sendiri, juga tentunya lantaran kemuliaan barokah yang terpancar dari ketaqwaan sang guru, asy Syekh Abdus Salam bin Masyisy, rodhiyAllahu 'anh.
Thoriqot ini pula, di kemudian hari, yaitu pada waktu beliau kelak bermukim di negeri Tunisia dan Mesir, beliau kembangkan dan sebar luaskan ke seluruh penjuru dunia melalui murid-murid dia. Oleh lantaran ia adalah orang yang pertama kali mendakwahkan dan berbagi aliran thoriqot ini secara luas kepada masyarakat umum, sehingga balasannya masyhur di mana-mana, maka ia pun kemudian dianggap sebagai pendiri thoriqot ini yang pada akibatnya menisbatkan nama thoriqot ini dengan nama besar dia, dengan sebutan "THORIQOT SYADZILIYAH". Banyak para ulama dan pembesar-pembesar agama di seluruh dunia, dari ketika itu hingga sekarang, yang mengambil berkah dari mengamalkan thoriqot ini. Sebuah thoriqot yang amat sederhana, tidak terlalu membebani bagi khalifah dan para guru mursyidnya serta para pengamalnya.
Setelah cukup usang ia tinggal bersama asy Syekh, maka tibalah saat perpisahan antara guru dan murid. Pada ketika perpisahan itu Syekh Abdus Salam membuat pemetaan kehidupan murid tercinta ia tentang hari-hari yang akan dilalui oleh Syekh Abil Hasan dengan mengatakan, "Wahai anakku, setelah usai masa berguru, maka tibalah ketikanya kini engkau untuk beriqomah. kini pergilah dari sini, kemudian carilah sebuah daerah yang bernama SYADZILAH. Untuk beberapa waktu tinggallah engkau di sana. Kemudian perlu kau ketahui, di sana pula Allah 'Azza wa Jalla akan menganugerahi engkau dengan sebuah nama yang indah, asy Syadzily."
"Setelah itu," lanjut asy Syekh, "Kemudian engkau akan pindah ke negeri Tunisia. Di sana engkau akan mengalami suatu musibah dan ujian yang tibanya dari penguasa negeri itu. setelah itu, wahai anakku, engkau akan pindah ke arah timur. Di sana pulalah kelak engkau akan menerima warisan al Quthubah dan menj adikan engkau seorang Quthub."
Pada waktu akan berpisah, ia mengajukan satu permohonan kepada asy Syekh supaya menyampaikan wasiat untuk yang terakhir kalinya, dengan mengatakan, "Wahai tuan Guru yang mulia, berwasiatlah untukku." Asy Syekh pun kemudian berkata, "Wahai Ali, takutlah kepada Allah dan berhati-hatilah terhadap insan. Sucikanlah verbalmu daripada menyebut akan keburukan mereka, serta sucikanlah hatimu dari kecondongan terhadap mereka. Peliharalah anggota badanmu (dari segala yang maksiat, pen.) dan tunaikanlah setiap yang difardhukan dengan sempurna. Dengan begitu, maka tepatlah Allah mengasihani dirimu."
Lanjut asy Syekh lagi, "Jangan engkau memperingatkan kepada mereka, tetapi utamakanlah kewajiban yang menjadi hak Allah atas dirimu, maka dengan Tutorial yang demikian akan tepatlah waro'mu." "Dan berdoalah wahai anakku, 'Ya Allah, rahmatilahlah diriku dari ingatan kepada mereka dan dari segala perkara yang tiba dari mereka, dan selamatkanlah daku dari kejahatan mereka, dan cukupkanlah daku dengan kebaikan-kebaikanMu dan bukan dari kebaikan mereka, dan kasihilah diriku dengan beberapa kelebihan dari antara mereka. Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah atas segala sesuatu Dzat Yang Maha Berkuasa."'
Selanjutnya, setelah perpisahan itu, asy Syekh Abdus Salam bin Masyisy yang dilahirkan di kota Fes, Maroko, tetap tinggal di negeri kelahirannya itu hingga janjkematian beliau. Sang Quthub nan agung ini meninggal dunia pada tahun 622 H./1225 M. Makam beliau sampai ketika ini ramai diziarahi kaum muslimin yang datang dari seluruh penjuru dunia.
Di Syadzilah
Seusai berpisah dengan asy Syekh Abdus Salam bin Masyisy, beliau mulai menapaki perjalanan yang pertama sebagai apa yang telah dipetakan oleh sang guru, yaitu mencari sebuah desa berjulukan Syadzilah. Setelah dicari-cari, akhirnya hinggalah Beliau di sebuah desa berjulukan Syadzilah yang terletak di wilayah negeri Tunisia. Pada ketika ia tiba di desa itu, yang mengherankan, beliau sudah disambut dan dielu-elukan oleh segenap penduduk Sya¬dzilah, sedang ia sendiri tidak tahu siapa bahu-membahu yang memberitakan akan kedatangan dia. Tapi, itu sebuah kenya¬taan bahwa mereka dalam menyampaikan sambutan kepada ia tampak sekali terlihat dari raut wajah mereka suatu kegembiraan yang amat dalam, seakan mereka mampu bertemu dengan orang yang sudah lama dinanti-nantikan.
Beliau tinggal di tengah-tengah desa Syadzilah hanya beberapa hari saja. lantaran, semenjak tiba di kota itu, ia telah tetapkan untuk tidak berlama-lama berada di tengah keramaian masyarakat. beliau ingin bermukim di tempat yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuknya orang-orang. Memang, tujuan dia datang ke kota itu, sesuai dengan petunjuk sang guru, semata-mata hanyalah untuk lebih meningkatkan dan menyempurnakan ibadah beliau dengan Tutorial menjauh dari masyarakat.
Akhirnya, Beliau memilih tempat di luar kota Syadzilah, yaitu di sebuah bukit yang bernama Zaghwan. Maka, berangkatlah ia ke bukit itu dengan diiringi oleh sahabat beliau bernama debu Muhammad Abdullah bin Salamah al Habibie. Dia adalah seorang cowok penduduk orisinil Syadzilah yang memiliki ketaqwaan dan telah terbuka mata hatinya (mukasyafah).
Di bukit itu, beliau melakukan laiihan-latihan ruhani dengan menerapkan disiplin diri yang tinggi. Setiap jengkal waktu, beliau gunakan untuk menempa ruhani dengan melaksanakan riyadhoh, mujahadah dan menjalankan wirid-wirid sebagaimana yang telah diajarkan oleh guru ia, asy Syekh Abdus Salam. Di bukit itu, Beliau melaksanakan uzlah dan suluk dengan Cara menggladi nafsu sehingga benar-benar menjadi pribadi yang cemerlang dan istiqomah yang diliputi dengan rasa khidmah dan mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Untuk kehidupannya, dia bersama sahabat setianya, al Habibie, hanya mengambil tumbuhan yang ada di sekitar bukit Zaghwan itu saja. Tetapi, semenjak ia bermukim di bukit itu, Allah SWT telah mengaruniakan sebuah mata air untuk meme¬nuhi keperluan dia.
Pernah, pada suatu hari, beliau menyaksikan gusi al Habibie terluka hingga mengeluarkan darah lantaran terkena ranting dari dedaunan yang dimakannya. Melihat hal itu, Leliau menjadi terharu lantaran sahabat yang setia mengiringinya harus mengalami kesakitan. Segera saja, setelah itu, dia mengajak al Habibie turun ke desa Syadzilah untuk mencari kuliner yang lunak. Dan sekiranya telah tercukupi, maka Beliau berdua segera naik kembali ke bukit Zaghwan untuk meneruskan "perjalanan". Memang, semenjak beruzlah di bukit itu, kadang kala Beliau berdua turun ke desa Syadzilah untuk berbagai keperluan.
Berkaitan dengan pengalaman keruhanian, diceritakan oleh al Habibie, bahwa pada suatu ketika dia pernah melihat dalam pandangan mata batinnya, nampak segerombolan malaikat, 'alaihimus sholatu was salam, mengerumuni asy Syekh. Bahkan, lanjut al Habibie, "Sebagian dari malaikat itu ada yang berjalan beriringan bersamaku dan ada pula yang bercakap-cakap dengan saya." Tidak jarang pula dilihat oleh al Habibie arwah para waliyulloh yang secara berkelompok maupun sendiri-sendiri, mendatangi dan mengerubuti asy Syekh. Para wali-wali itu, rohimahumulloh, dikatakan oleh al Habibie, mencicipi memperoleh berkah lantaran kedekatan dan kebersamaan mereka dengan asy Syekh.
Sehubungan dengan nama desa Syadzilah, yang akhirnya bertautan dengan nama dia, diceritakan oleh beliau, bahwa ia pada suatu ketika dalam fana'nya, pernah mengemukakan sebuah pertanyaan kepada Allah SWT, "Ya Robb, mengapa nama Syadzilah Engkau kaitkan dengan namaku ?" Maka, dikatakan kepadaku, "Ya Ali, saya tidak menamakan engkau dengan nama asy Syadzily, tetapi asy Syaadz-ly (penekanan kata pada "dz") yang artinya jarang (langka), yaitu lantaran keistimewaanmu dalam menyatu untuk berkhidmat demi untuk¬Ku dan demi cinta kepada-Ku."
Beliau tinggal di bukit Zaghwan itu hingga bertahun-tahun, hingga pada suatu hari, Beliau menerima perintah dari Allah SWT semoga turun dari bukit dan keluar dari tempat khalwatnya untuk segera mendatangi masyarakat.
Diceritakan oleh ia, begini, "Pada waktu itu telah dikatakan kepadaku, 'Hai Ali, turun dan tibailah manusia-manusia, agar mereka memperoleh manfaat dari padamu !' lalu, sayapun mengatakan, 'Ya Allah, selamatkanlah diriku dari manusia banyak, karena saya tidak berkemampuan untuk bergaul dengan mereka'. lalu dikatakan kepadaku, 'Turunlah, wahai Ali ! saya akan mendampingimu dengan keselamatan dan akan saya singkirkan engkau dari marabahaya'. saya katakan pula, 'Ya Allah, Engkau serahkan diriku kepada manusia-manusia, termasuk apa yang aku makan dan harta yang aku pakai ?' Maka, dikatakan kepadaku, 'Hendaklah engkau menafkahkan dan aku-lah yang mengisi, pilihlah dari jurusan tunai ataukah jurusan ghaib."'
Setelah selesai menjalani seperti apa yang telah dipetakan oleh asy Syekh Abdus Salam dan setelah mendapat perintah untuk keluar dari tempat uzlahnya guna mendatangi masyarakat, maka ia segera melanjutkan perjalanannya sesuai dengan pemetaan berikutnya, yaitu menuju ke kota Tunis.
Di Tunis
Bagi beliau, kota Tunis tentu sudah tidak gila lagi. lantaran sejak usia anak-anak hingga dewasa dia bemukim di kota ini sampai bertahun-tahun. Namun, seakan-akan apa yang dia saksikan pada saat kedatangan beliau kali ini, ternyata negeri ini tidak mengalami banyak perubahan dan kemajuan. Masih tetap seakan-akan dulu. Penduduk negeri ini tetap miskin dan sering dilanda kelaparan. Namun demikian, sejak kedatangannya, beliau juga masih tetap berusaha untuk meringankan penderitaan penduduk dalam menghadapi kelaparan. Alkisah, dalam usaha ia menyampaikan pertolongan kepada mereka, beliau sering didatangi nabiyulloh Khidlir, 'alaihissalam, guna membantu dia sekaligus untuk menyelamatkan ia dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Hal ini terjadi karena berkat kebesaran jiwa dan kesantunan beliau.
Pada saat itu, negeri Tunisia berada di bawah kekuasaan pemerintahan seorang sultan atau raja yang berjulukan Sultan abu Zakariyya al Hafsi. Dalam pemerintahan Sultan Abu Zakariyya, di antara jajaran para menterinya ada seorang kadi (hakim agama) yang bernama Ibnul Baro'. Dia ialah seorang faqih, namun di sisi lain dia juga memiliki hati yang jelek. Keserakahan untuk mempunyai kedudukan, imbas, dan kekuasaan itulah yang menciptakan nafsu iri dengkinya tumbuh subur di dalam hati Ibnul Baro'. Dendam kesumat dan keinginan menjatuhkan orang lain pun semakin membara dalam dadanya. Pikiran dan hatinya siang malam hanya tertuju bagaimana cara mempertahankan dan memperkuat imbas dan jabatannya.
Asy Syekh Abil Hasan datang ke Tunis selain untuk menapaki seperti apa yang telah dipetakan oleh guru ia, juga lantaran memang mendapat perintah untuk berdakwah. Setelah beberapa bulan dia melaksanakan dakwah di kota Tunis itu, maka kelihatanlah semakin banyak orang-orang berkerumun mendatangi ia. Selain masyarakat kebanyakan yang hadir dalam majelis-majelis pengajiannya, juga tidak sedikit orang-orang alim, sholih dan mahir karomah yang turut serta mendengarkan dan menyimak nasehat-nasehat ia. Di antara mereka tampak, antara lain: asy Syekh abul Hasan Ali bin Makhluf asy Syadzily, debu Abdullah ash Shobuni, bubuk Muhammad Abdul Aziz az Zaituni, abu Abdullah al Bajja'i al Khayyath, dan abu Abdullah al Jarihi. Mereka semua mencicipi kesejukan siraman rohani yang luar biasa yang keluar dari kecemerlangan hati dan ekspresi nan suci asy Syekh. Padahal, pada waktu itu beliau masih berumur sekitar 25 tahun.
Fenomena tersebut ditangkap oleh Ibnul Baro' sebagai sebuah pemandangan yang amat tidak mengenakkan perasaannya. keberadaan asy Syekh di kota Tunis ini dianggap sebagai kerikil yang mengganggu bagi dirinya. Setiap berita yang berkaitan dengan asy Syekh ditangkap oleh pendengaran Ibnul Baro' kemudian menyusup masuk ke relung hatinya yang telah terbakar bara kebencian dan rasa iri dengki yang mendalam.
Demi melihat kenyataan masyarakat semakin condong dan berebut mengerumuni asy Syekh, seketika itu pula pudarlah imajinasi-khayalan Ibnul Baro'. Timbul prasangka buruk bahwa Syekh Abil Hasan telah merampas haknya, bahkan besar kemungkinan kalau pada akibatnya nanti akan menumbangkan kedudukannya serta mengambil alih jabatan yang amat dicintainya itu. Oleh karena itu, dengan menepuk dada disertai perilaku angkuhnya Ibnul Baro' mengumumkan pernyataan secara terang-terangan, bahwa dia telah memaklumkan "perang" melawan asy Syekh Abil Hasan Ali asy Syadzily, rodhiyallahu 'anh.
Namun demikian meski bertahun-tahun mengalami serangan dan fitnahan dari orang yang dengki kepada beliau, tetapi yang namanya intan ialah tetap intan. dia adalah seorang kekasih Allah yang mempunyai derajat kemuliaan yang tinggi. Dan apabila seorang kekasih-Nya dianiaya oleh orang lain, maka Allah sendirilah yang akan membalasnya. Itulah yang terjadi, sehingga balasannya seluruh negeri mengetahui kemulian asy Syekh Abil Hasan Syadzily, rodhiyallahu 'anh.
Setelah itu, terbetik dalam hati asy Syekh untuk kembali menunaikan ibadah haji. ia lalu menyerukan kepada para murid dan pengikutnya supaya mereka, untuk sementara waktu, hijrah atau berpindah ke negeri sebelah timur, sambil menunggu tibanya musim haji yang pada waktu itu masih kurang beberapa bulan lagi. Maka, segera bersiap-siaplah beliau dengan para pengikutnya untuk melakukan perj alanan jauh menuju ke negeri Mesir.
Dalam perjalan ke Mesir tersebut masih tidak lepas dari rekayasa fitnah Ibnul Baro' sehingga Sultan mempermasalahkan kehadiran beliau di negeri Mesir. Tetapi Allah tetap memberikan perlindungan-Nya, menujukkan bahwa asy Syekh yaitu kekasihnya dan dengan kebesaran hati dan kehalusan akal pekerti ialah, akibatnya dia bersedia memaafkan dan mendoakan Sultan hingga mereka semua menganggap pertemuan mereka dengan asy Syekh yaitu merupakan anugerah tuhan yang tiada terkira bagi mereka.
Namun, sebagaimana yang telah direncanakan, asy Syekh tinggal di Mesir hanya untuk beberapa bulan saja, sampai datangnya waktu musim haji. Setelah tiba pada saatnya asy Syekh pun mohon diri kepada Sultan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke tanah suci Mekkah. Ringkas kisah, di sana dia mengerjakan ibadah haji hingga secukupnya, kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke tanah suci Madinah guna untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW. Setelah semuanya itu selesai, maka kembalilah beliau beserta rombongan ke negeri Tunisia.
Sewaktu asy Syekh kembali dari tanah suci, Sultan abu Zakariyya al Hafsi beserta penduduk Tunis tampak bersukacita menyambut kedatangan ia. Rasa gembira sulit mereka sembunyikan, lantaran asy Syekh yang mereka cintai dan mereka hormati kini telah kembali berkumpul bersama mereka lagi. Namun, suasana gembira ini tidak berlaku bagi Ibnul Baro'. Bagi dia, kembalinya asy Syekh berarti merupakan sebuah "malapetaka" dan menunjukan dimulainya lagi sebuah "pertempuran". Tetap seakan-akan dulu. Dengan berbagai Tutorial dia selalu berusaha supaya asy Syekh, yang merupakan musuh bebuyutannya itu, secepatnya lenyap dari muka bumi ini. Namun, alhamdulillah, semua upaya jahat itu selalu menemui kegagalan.
Kemudian, setelah beberapa hari sejak kedatangan dari tanah suci, asy Syekh lalu melanjutkan perannya untuk mengajar dan berdakwah. Zawiyah atau pondok pesulukan, sebagai bengkel rohani yang beliau dirikan juga kian diminati para 'pejalan'. Dalam catatan sejarah, zawiyah pertama yang asy Syekh dirikan di Tunisia ialah pads tahun 625 H./1228 M., ketika ia berusia sekitar 32 tahun. Di hari-hari berikutnya semakin banyak orang-orang yang mendatangi beliau, baik penduduk setempat maupun orang-orang yang datang dari luar negeri Tunisia.
Di antara murid-murid asy Syekh yang datang dari luar negeri Tunisia; terdapat seorang cowok yang berasal dari kawasan Marsiyah, negeri Marokko, tidak jauh dari kawasan tempat kelahiran asy Syekh sendiri, yang berjulukan abul Abbas al Marsi. Pertemuan asy Syekh dengan perjaka ini tampak benar-benar merupakan sebuah pertemuan yang amat spesial, hingga-sampai pada suatu hari asy Syekh berkata, "Aku tentu tidak akan ditakdirkan kembali ke negeri Tunisia, kecuali karena pemuda ini. Dialah yang akan menjadi pendampingku dan dia pulalah yang kelak akan menjadi khalifah penggantiku." berdasarkan sebuah catatan, cowok al Marsi (al Mursi) ini ketika masih berada di Maroko, pernah pula, walaupun tidak terlalu lama, berguru secara langsung kepada asy Syekh Abdus Salam hingga meninggalnya ia tahun 622 H./ 1225 M.
Kembalinya asy Syekh ke Tunis dari perjalanan hajinya kali ini hanyalah semata-mata untuk melanjutkan tugas mengajar dan berdakwah, seperti yang telah diperintahkan pada saat beliau di gunung Barbathoh dan di bukit Zaghwan. Semuanya itu beliau jalani sambil menanti datangnya "perintah" selanjutnya untuk menapaki seperti apa yang telah dipetakan oleh asy Syekh Abdus Salam bin Masyisy. Pada saat pemetaan, guru beliau itu mengatakan bahwa setelah bermukim di negeri Tunisia ini, yaitu setelah "dihajar" oleh penguasa negeri itu, maka Beliau kemudian harus melanjutkan perjalanannya menuju ke arah timur.
Dalam hari-hari penantiannya itu, pada suatu malam asy Syekh bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Waktu itu, Rasulullah berkata, "Ya Ali, sudah dikalanya kini engkau meninggalkan negeri ini. sekarang pergilah engkau ke negeri Mesir.'' Kemudian Rosululloh melanjutkan, "Dan ketahuilah, wahai Ali, selama dalam perjalananmu menuju ke Mesir, Allah akan menganugerahkan kepadamu tujuh puluh macam karomah. Selain itu, di sana pula kelak engkau akan mendidik empat puluh orang dari golongan shiddiqin."
Jadi

0 Response to "Asy Syekh al Quthub Abil Hasan asy Syadzily"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel