Penciptaan Nur Nabiyullah Muhammad SAW
Suatu
hari Sayyidina Ali, karam Allahu wajhahu, misan dan menantu Nabi Suci SAW
bertanya, “Wahai Muhammad SAW, kedua orang tuaku akan menjadi jaminanku, mohon
ceritakanlah padaku apa yang diciptakan Allah SWT sebelum semua makhluk
diciptakan?”
Berikut ini adalah jawaban ia yang indah:
Sesungguhnya, sebelum Rabb-mu membuat yang lainnya, Dia membuat Nur Nabimu dari Nur-Nya, dan Nur itu diistirahatkan haithu masyaAllah, di mana Allah SWT menghendakinya untuk beristirahat. Dan pada waktu itu tidak ada hal lainnya yang hadir – tidak ada Lawhul Mahfuzh, tidak ada Qalam, surga maupun Neraka, tidak ada Malaikat Muqarrabin (Angelic Host), tidak ada langit maupun bumi; tiada matahari, tiada rembulan, tiada bintang, tiada jinn, insan ataupun malaikat – belum ada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.
Kemudian Allah SWT, Subhanallah, dengan Iradat-Nya, Dia menghendaki adanya ciptaan. Dia kemudian membagi Nur ini menjadi empat pecahan. Dari pecahan pertama Dia membuat Qalam, dari cuilan kedua Lawhul Mahfuzh, dari kepingan ketiga Arsy.
Kini telah diketahui bahwa saat Allah SWT menciptakan Lawhul Mahfuzh dan Qalam, pada Qalam itu terdapat seratus simpul, jarak antara kedua simpul ialah sejauh dua tahun perjalanan. Allah SWT kemudian memerintahkan Qalam untuk menulis, dan Qalam bertanya, “Ya Allah, apa yang harus kutulis?” Allah SWT berkata, “Tulislah: laa ilaha illAllah, Muhammadan Rasulullah SAW.” Terhadap hal itu Qalam berseru, “Oh, sungguh sebuah nama yang indah dan agung - Muhammad SAW- bahwa dia disebut bersama Asma-Mu yang Suci, yaa Allah.”
Allah SWT kemudian berkata, “Wahai Qalam, jagalah kelakuanmu! Nama ini ialah nama Kekasih-Ku, dari Nurnya saya membuat Arsy, Qalam dan Lawhul Mahfuzh; jadi engkau juga diciptakan dari Nur-nya. jika bukan lantaran dia, aku tidak akan menciptakan apapun.” dikala Allah SWT telah mengucapkan kalimat tersebut, Qalam itu terbelah dua karena takutnya terhadap Allah SWT, dan kawasan dari mana ucapannya tadi keluar menjadi tertutup/terhalangi dan hingga sekarang ujungnya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak lagi menulis, sebagai tanda dari belakang layar ilahiah yang agung. Oleh sebab itu, jangan hingga ada satu orang pun yang gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi Suci SAW, atau menjadi lalai dalam mengikuti suri acuan dia yang baik, atau membangkang dan meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada kita.
Kemudian Allah SWT memerintahkan Qalam untuk menulis. “Apa yang harus aku tulis, Ya Allah?” tanya Qalam. lalu Rabbal `Alamin berkata, “Tulislah semua yang akan terjadi sampai Hari Pengadilan!” Qalam berkata, “Ya Allah, dari mana aku harus memulai?” Allah SWT berfirman, “Kamu harus memulai dengan kata-kata ini, Bismillah al-Rahmaan al-Rahiim.” Dengan rasa hormat dan takut yang sempurna, lalu Qalam bersiap untuk menulis kata-kata itu pada Lawhul Mahfuzh, dan dia menyelesaikan goresan pena itu dalam waktu 700 tahun.
Ketika Qalam telah menulis kata-kata itu, Allah SWT berbicara dan berkata, “Engkau telah memakan waktu 700 tahun untuk menulis tiga Nama-Ku; Nama Keagungan-Ku, Kasih Sayang-Ku dan tenggang rasa-Ku. Tiga kata-kata yang penuh berkah ini saya buat sebagai hadiah bagi ummat Kekasih-Ku Muhammad SAW.”
Dengan Keagungan-Ku, saya berjanji bahwa bilamana hamba mana pun dari ummat ini menyebutkan kata ‘Bismillaah’ dengan niat yang murni, aku akan menulis 700 tahun pahala yang tak terhitung untuknya, dan 700 tahun dosa akan Ku hapuskan.”
Kemudian penggalan keempat dari Nur itu, saya bagi lagi menjadi empat penggalan:
Dari bagian yang pertama saya ciptakan Malaikat Penyangga Singgasana (hamalat al-`Arsy);
Dari cuilan kedua saya telah ciptakan kursi, majelis Ilahiah (Langit atas yang menyangga singgasana Ilahiah, `Arsy);
Dari penggalan ketiga saya ciptakan seluruh malaikat langit lainnya;
Dan kepingan keempat saya bagi lagi menjadi empat kepingan: dari pecahan pertama, saya membuat semua langit; dari penggalan kedua, aku membuat bumi-bumi; dari belahan ketiga, aku membuat Jinn dan api. serpihan keempatnya aku bagi lagi menjadi empat bagian: dari belahan pertama, saya membuat cahaya yang menyoroti muka kaum beriman; dari cuilan kedua saya membuat cahaya di dalam hati mereka, merendamnya dengan ilmu ilahiah; dari kepingan ketiga, Ku-ciptakan cahaya bagi pengecap mereka yang ialah cahaya Tawhid (Hu Allahu ahad); dan dari serpihan keempat, saya membuat banyak sekali cahaya dari ruh Muhammad SAW.
- Ruh yang bagus ini diciptakan 360.000 tahun sebelum penciptaan dunia ini.
- Ruh itu dibentuk dengan sangat elok dan dibuat dari bahan yang tak terbandingkan.
- Kepalanya dibuat dari petunjuk, lehernya dibuat dari kerendahan hati.
- Matanya dari kesederhanaan dan kejujuran, dahinya dari kedekatan (kepada Allah SWT).
- Mulutnya dari kesabaran, lidahnya dari kesungguhan.
- Pipinya dari cinta dan kehati-hatian,
- Perutnya dari tirakat terhadap kuliner dan hal-hal keduniaan.
- Kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus.
- Hatinya yang mulia dipenuhi dengan rahman.
Ruh yang penuh kemuliaan ini diajari dengan rahmat dan dilengkapi dengan budpekerti semua kekuatan yang indah. Kepadanya diberikan risalah-Nya dan kualitas kenabiannya dipasang.
Kemudian Mahkota Kedekatan Ilahiah dipasangkan pada kepalanya yang penuh berkah, masyhur dan tinggi di atas semua lainnya, didekorasi dengan Ridha Ilahiah dan diberi nama Habibullah (Kekasih Allah SWT) yang murni dan suci.
Dua belas Tabir 12 Bulan, 12 Rabiul Awal, 12 suku, 12 menunjukkan Penuntasan
Sesudah itu Allah SWT menciptakan dua belas tabir.
Pertama adalah Tabir Kekuatan di mana Ruh Nabi SAW bermukim (tinggal) selama 12.000 tahun, membaca Subhana rabbi al-’ala (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi).
Kedua adalah Tabir Kebesaran di mana dia ditutupi selama 11.000 tahun, mengucapkan, Subhanal ’Alim ul-Hakim (Maha Suci Rabb-ku, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana).
Dia dipingit selama 10.000 tahun dalam Tabir Kebaikan, mengucapkan Subhana man huwa da’im, la yaqta (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha baka, Yang Tidak Berakhir).
Tabir keempat ialah Tabir Rahman, di situ ruh mulia itu tinggal selama 9.000 tahun, memuja Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana-rafi’-al-`ala (Maha Suci Rabb-ku Yang Ditinggikan, Maha Tinggi).
Tabir kelima yaitu Tabir Nikmat, dan di situ ruh tinggal selama 8.000 tahun, mengagungkan Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man huwa qa’imun la yanam. (Maha Suci Rabb-ku Yang Selalu Ada, Yang Tidak Tidur).
Tabir keenam ialah Tabir Kemurahan; di mana dia tinggal selama 7.000 tahun, memuja, Subhana-man huwal-ghaniyu la yafqaru (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Kaya, Yang Tidak Pernah Menjadi Miskin).
Kemudian diikuti tabir ketujuh, Tabir Kedudukan. Di sini ruh yang tercerahkan itu tinggal selama 6.000 tahun, memuja Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man huwal Khaliq-an-Nur (Maha Suci Rabb-ku Maha Pencipta, Sang Cahaya).
Berikutnya, Dia menyelimutinya dengan tabir kedelapan, Tabir Petunjuk di mana dia tinggal selama 5.000 tahun, memuja Allah SWT dan berkata, Subhana man lam yazil wa la yazal. (Maha Suci Rabb-ku Yang eksistensi-Nya Tak Pernah Berhenti, Yang Tidak Musnah).
Kemudian diikuti tabir kesembilan, yaitu Tabir Kenabian di mana dia tinggal selama 4.000 tahun, mengagungkan Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man taqarrab bil-qudrati wal-baqa. (Maha Suci Rabb-ku yang Mengajak erat dengan Maha kuat dan Maha Langgeng).
Kemudian datang Tabir Keunggulan, tabir kesepuluh di mana ruh yang tercerahkan ini tinggal selama 3.000 tahun, membaca puji-pujian untuk Pencipta dari Semua Sebab, mengucapkan, Subhana dzil-’arsyi ‘amma yasifun. (Maha Suci Rabb-ku Pemilik Singgasana Di atas Semua huruf Yang Dilekatkan Kepada-Nya).
Tabir kesebelas ialah Tabir Cahaya. Di sana dia tinggal selama 2.000 tahun, berdo`a, Subhana dzil-Mulk wal-Malakut. (Maha Suci Rabb-ku Maha Raja semua Kerajaan Langit dan Bumi).
Tabir kedua belas yaitu Tabir Intervensi (Syafa’at), dan di sana dia tinggal selama 1.000 tahun, mengucapkan, Subhana-rabbi al-’azhim (Maha Suci Rabb-ku, Maha Anggun).
Penciptaan AHMAD SAW Tercinta
Setelah itu Allah SWT menciptakan sebuah pohon yang dikenal sebagai Pohon Kepastian.
Pohon ini memiliki empat cabang. Dia menempatkan ruh yang diberkahi tadi pada salah satu cabang, dan dia terus menerus memuja Allah SWT selama 40.000 tahun, mengucapkan, Allahu dzul-Jalaali wal-Ikram. (Allah SWT, Pemilik Keperkasaan dan Kebaikan).
Setelah dia memuja-Nya dengan Cara demikian itu, dengan pepujian yang banyak dan beragam, Allah SWT membuat sebuah cermin, dan Dia meletakannya sedemikian hingga menghadap ruh Habibullah, dan memerintahkan ruh tersebut untuk memandangi cermin itu.
Ruh itu melihat ke dalam cermin dan melihat dirinya terpantul sebagai pemilik bentuk yang paling elok, indah dan tepat.
Dia lalu membaca lima kali, Syukran lillahi ta’ala (terima kasih kepada Allah SWT, Maha Tinggi Dia), dan tersungkur dalam posisi sujud di hadapan Rabb-nya. Dia tetap bersujud seolah-olah itu selama 100 tahun, mengucapkan Subhanal-aliyyul-azhim, wa la yajhalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Tinggi, Maha Anggun, Yang Tidak Mengabaikan Apapun); Subhanal-halim alladzi la yu’ajjalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Toleran, Yang Tidak Tergesa-gesa); Subhanal-jawad alladzi la yabkhalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Pemurah Yang Tidak Pelit).
Karena itulah Penyebab (adanya) makhluk mewajibkan ummat Muhammad SAW untuk melakukan sujud (sajda) lima kali dalam sehari – lima shalat - dalam kala waktu siang hingga malam. Ini adalah sebuah hadiah kehormatan bagi ummat Muhammad SAW.
Dari Nur Muhammad SAW
Berikutnya Allah SWT membuat sebuah lampu jamrud hijau dari Cahaya,
· dan dilekatkan pada pohon tadi, melalui seuntai rantai cahaya.
· lalu Dia menempatkan ruh Muhammad SAW di dalam lampu itu dan memerintahkannya untuk memuja Dia dengan Nama Paling Indah (Asma al-Husna).
· Perintah itu dilakukannya, dan dia mulai membaca setiap satu dari Nama itu selama 1.000 tahun. dikala dia sampai kepada Nama ar-Rahman (Maha Kasih), pandangan ar-Rahman jatuh kepadanya dan ruh itu mulai berkeringat lantaran kerendahan hatinya.
· Tetesan keringat jatuh dari dirinya, setiap tetes beraroma mawar berubah menjadi ruh seorang nabi menjadi nabi dan rasul.
· Mereka semua berkumpul di sekitar lampu di pohon itu, dan Allah Azza wa Jalla berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Lihatlah! Ini sejumlah besar nabi yang aku ciptakan dari tetesan keringatmu yang menyerupai mutiara.”
· Mematuhi perintah itu, dia memandangi mereka, dan saat cahaya mata itu menyentuh/menyinari objek tersebut, maka ruh para nabi itu sekonyong-konyong tenggelam dalam Nur Muhammad SAW, dan mereka berteriak, “Ya Allah, siapa yang menyelimuti kami dengan cahaya?”
· Allah SWT menjawab mereka, “Ini adalah Cahaya dari Muhammad SAW Kekasih-Ku, dan bila kalian akan beriman kepadanya dan menegaskan risalah kenabiannya, aku akan menghadiahkan kepada kalian kehormatan berupa kenabian.”
· Dengan itu, semua ruh para nabi itu menyatakan keyakinan mereka kepada kenabiannya, dan Allah SWT berkata, “Aku menjadi saksi terhadap pengakuanmu ini,” dan mereka semua setuju. Sebagaimana disebutkan di dalam al Alquran yang Suci:
Dan saat Allah SWT bersepakat dengan para nabi itu : Bahwa aku telah memberi kamu Kitab dan Kebijakan; kemudian akan datang kepadamu seorang Rasul yang menegaskan kembali apa-apa yang telah apa padamu–kamu akan beriman kepadanya dan kau akan membantunya; apa kau sepakat? Dia berkata. Dan apakah kamu menerima beban-Ku kepadamu dengan syarat seolah-olah itu. Mereka berkata, ‘Benar kami setuju.’ Allah SWT berkata, ‘Bersaksilah demikian, dan aku akan bersama kamu di antara para saksi.(Ali Imran, 3:75-76
Berikut ini adalah jawaban ia yang indah:
Sesungguhnya, sebelum Rabb-mu membuat yang lainnya, Dia membuat Nur Nabimu dari Nur-Nya, dan Nur itu diistirahatkan haithu masyaAllah, di mana Allah SWT menghendakinya untuk beristirahat. Dan pada waktu itu tidak ada hal lainnya yang hadir – tidak ada Lawhul Mahfuzh, tidak ada Qalam, surga maupun Neraka, tidak ada Malaikat Muqarrabin (Angelic Host), tidak ada langit maupun bumi; tiada matahari, tiada rembulan, tiada bintang, tiada jinn, insan ataupun malaikat – belum ada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.
Kemudian Allah SWT, Subhanallah, dengan Iradat-Nya, Dia menghendaki adanya ciptaan. Dia kemudian membagi Nur ini menjadi empat pecahan. Dari pecahan pertama Dia membuat Qalam, dari cuilan kedua Lawhul Mahfuzh, dari kepingan ketiga Arsy.
Kini telah diketahui bahwa saat Allah SWT menciptakan Lawhul Mahfuzh dan Qalam, pada Qalam itu terdapat seratus simpul, jarak antara kedua simpul ialah sejauh dua tahun perjalanan. Allah SWT kemudian memerintahkan Qalam untuk menulis, dan Qalam bertanya, “Ya Allah, apa yang harus kutulis?” Allah SWT berkata, “Tulislah: laa ilaha illAllah, Muhammadan Rasulullah SAW.” Terhadap hal itu Qalam berseru, “Oh, sungguh sebuah nama yang indah dan agung - Muhammad SAW- bahwa dia disebut bersama Asma-Mu yang Suci, yaa Allah.”
Allah SWT kemudian berkata, “Wahai Qalam, jagalah kelakuanmu! Nama ini ialah nama Kekasih-Ku, dari Nurnya saya membuat Arsy, Qalam dan Lawhul Mahfuzh; jadi engkau juga diciptakan dari Nur-nya. jika bukan lantaran dia, aku tidak akan menciptakan apapun.” dikala Allah SWT telah mengucapkan kalimat tersebut, Qalam itu terbelah dua karena takutnya terhadap Allah SWT, dan kawasan dari mana ucapannya tadi keluar menjadi tertutup/terhalangi dan hingga sekarang ujungnya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak lagi menulis, sebagai tanda dari belakang layar ilahiah yang agung. Oleh sebab itu, jangan hingga ada satu orang pun yang gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi Suci SAW, atau menjadi lalai dalam mengikuti suri acuan dia yang baik, atau membangkang dan meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada kita.
Kemudian Allah SWT memerintahkan Qalam untuk menulis. “Apa yang harus aku tulis, Ya Allah?” tanya Qalam. lalu Rabbal `Alamin berkata, “Tulislah semua yang akan terjadi sampai Hari Pengadilan!” Qalam berkata, “Ya Allah, dari mana aku harus memulai?” Allah SWT berfirman, “Kamu harus memulai dengan kata-kata ini, Bismillah al-Rahmaan al-Rahiim.” Dengan rasa hormat dan takut yang sempurna, lalu Qalam bersiap untuk menulis kata-kata itu pada Lawhul Mahfuzh, dan dia menyelesaikan goresan pena itu dalam waktu 700 tahun.
Ketika Qalam telah menulis kata-kata itu, Allah SWT berbicara dan berkata, “Engkau telah memakan waktu 700 tahun untuk menulis tiga Nama-Ku; Nama Keagungan-Ku, Kasih Sayang-Ku dan tenggang rasa-Ku. Tiga kata-kata yang penuh berkah ini saya buat sebagai hadiah bagi ummat Kekasih-Ku Muhammad SAW.”
Dengan Keagungan-Ku, saya berjanji bahwa bilamana hamba mana pun dari ummat ini menyebutkan kata ‘Bismillaah’ dengan niat yang murni, aku akan menulis 700 tahun pahala yang tak terhitung untuknya, dan 700 tahun dosa akan Ku hapuskan.”
Kemudian penggalan keempat dari Nur itu, saya bagi lagi menjadi empat penggalan:
Dari bagian yang pertama saya ciptakan Malaikat Penyangga Singgasana (hamalat al-`Arsy);
Dari cuilan kedua saya telah ciptakan kursi, majelis Ilahiah (Langit atas yang menyangga singgasana Ilahiah, `Arsy);
Dari penggalan ketiga saya ciptakan seluruh malaikat langit lainnya;
Dan kepingan keempat saya bagi lagi menjadi empat kepingan: dari pecahan pertama, saya membuat semua langit; dari penggalan kedua, aku membuat bumi-bumi; dari belahan ketiga, aku membuat Jinn dan api. serpihan keempatnya aku bagi lagi menjadi empat bagian: dari belahan pertama, saya membuat cahaya yang menyoroti muka kaum beriman; dari cuilan kedua saya membuat cahaya di dalam hati mereka, merendamnya dengan ilmu ilahiah; dari kepingan ketiga, Ku-ciptakan cahaya bagi pengecap mereka yang ialah cahaya Tawhid (Hu Allahu ahad); dan dari serpihan keempat, saya membuat banyak sekali cahaya dari ruh Muhammad SAW.
- Ruh yang bagus ini diciptakan 360.000 tahun sebelum penciptaan dunia ini.
- Ruh itu dibentuk dengan sangat elok dan dibuat dari bahan yang tak terbandingkan.
- Kepalanya dibuat dari petunjuk, lehernya dibuat dari kerendahan hati.
- Matanya dari kesederhanaan dan kejujuran, dahinya dari kedekatan (kepada Allah SWT).
- Mulutnya dari kesabaran, lidahnya dari kesungguhan.
- Pipinya dari cinta dan kehati-hatian,
- Perutnya dari tirakat terhadap kuliner dan hal-hal keduniaan.
- Kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus.
- Hatinya yang mulia dipenuhi dengan rahman.
Ruh yang penuh kemuliaan ini diajari dengan rahmat dan dilengkapi dengan budpekerti semua kekuatan yang indah. Kepadanya diberikan risalah-Nya dan kualitas kenabiannya dipasang.
Kemudian Mahkota Kedekatan Ilahiah dipasangkan pada kepalanya yang penuh berkah, masyhur dan tinggi di atas semua lainnya, didekorasi dengan Ridha Ilahiah dan diberi nama Habibullah (Kekasih Allah SWT) yang murni dan suci.
Dua belas Tabir 12 Bulan, 12 Rabiul Awal, 12 suku, 12 menunjukkan Penuntasan
Sesudah itu Allah SWT menciptakan dua belas tabir.
Pertama adalah Tabir Kekuatan di mana Ruh Nabi SAW bermukim (tinggal) selama 12.000 tahun, membaca Subhana rabbi al-’ala (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi).
Kedua adalah Tabir Kebesaran di mana dia ditutupi selama 11.000 tahun, mengucapkan, Subhanal ’Alim ul-Hakim (Maha Suci Rabb-ku, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana).
Dia dipingit selama 10.000 tahun dalam Tabir Kebaikan, mengucapkan Subhana man huwa da’im, la yaqta (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha baka, Yang Tidak Berakhir).
Tabir keempat ialah Tabir Rahman, di situ ruh mulia itu tinggal selama 9.000 tahun, memuja Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana-rafi’-al-`ala (Maha Suci Rabb-ku Yang Ditinggikan, Maha Tinggi).
Tabir kelima yaitu Tabir Nikmat, dan di situ ruh tinggal selama 8.000 tahun, mengagungkan Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man huwa qa’imun la yanam. (Maha Suci Rabb-ku Yang Selalu Ada, Yang Tidak Tidur).
Tabir keenam ialah Tabir Kemurahan; di mana dia tinggal selama 7.000 tahun, memuja, Subhana-man huwal-ghaniyu la yafqaru (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Kaya, Yang Tidak Pernah Menjadi Miskin).
Kemudian diikuti tabir ketujuh, Tabir Kedudukan. Di sini ruh yang tercerahkan itu tinggal selama 6.000 tahun, memuja Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man huwal Khaliq-an-Nur (Maha Suci Rabb-ku Maha Pencipta, Sang Cahaya).
Berikutnya, Dia menyelimutinya dengan tabir kedelapan, Tabir Petunjuk di mana dia tinggal selama 5.000 tahun, memuja Allah SWT dan berkata, Subhana man lam yazil wa la yazal. (Maha Suci Rabb-ku Yang eksistensi-Nya Tak Pernah Berhenti, Yang Tidak Musnah).
Kemudian diikuti tabir kesembilan, yaitu Tabir Kenabian di mana dia tinggal selama 4.000 tahun, mengagungkan Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man taqarrab bil-qudrati wal-baqa. (Maha Suci Rabb-ku yang Mengajak erat dengan Maha kuat dan Maha Langgeng).
Kemudian datang Tabir Keunggulan, tabir kesepuluh di mana ruh yang tercerahkan ini tinggal selama 3.000 tahun, membaca puji-pujian untuk Pencipta dari Semua Sebab, mengucapkan, Subhana dzil-’arsyi ‘amma yasifun. (Maha Suci Rabb-ku Pemilik Singgasana Di atas Semua huruf Yang Dilekatkan Kepada-Nya).
Tabir kesebelas ialah Tabir Cahaya. Di sana dia tinggal selama 2.000 tahun, berdo`a, Subhana dzil-Mulk wal-Malakut. (Maha Suci Rabb-ku Maha Raja semua Kerajaan Langit dan Bumi).
Tabir kedua belas yaitu Tabir Intervensi (Syafa’at), dan di sana dia tinggal selama 1.000 tahun, mengucapkan, Subhana-rabbi al-’azhim (Maha Suci Rabb-ku, Maha Anggun).
Penciptaan AHMAD SAW Tercinta
Setelah itu Allah SWT menciptakan sebuah pohon yang dikenal sebagai Pohon Kepastian.
Pohon ini memiliki empat cabang. Dia menempatkan ruh yang diberkahi tadi pada salah satu cabang, dan dia terus menerus memuja Allah SWT selama 40.000 tahun, mengucapkan, Allahu dzul-Jalaali wal-Ikram. (Allah SWT, Pemilik Keperkasaan dan Kebaikan).
Setelah dia memuja-Nya dengan Cara demikian itu, dengan pepujian yang banyak dan beragam, Allah SWT membuat sebuah cermin, dan Dia meletakannya sedemikian hingga menghadap ruh Habibullah, dan memerintahkan ruh tersebut untuk memandangi cermin itu.
Ruh itu melihat ke dalam cermin dan melihat dirinya terpantul sebagai pemilik bentuk yang paling elok, indah dan tepat.
Dia lalu membaca lima kali, Syukran lillahi ta’ala (terima kasih kepada Allah SWT, Maha Tinggi Dia), dan tersungkur dalam posisi sujud di hadapan Rabb-nya. Dia tetap bersujud seolah-olah itu selama 100 tahun, mengucapkan Subhanal-aliyyul-azhim, wa la yajhalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Tinggi, Maha Anggun, Yang Tidak Mengabaikan Apapun); Subhanal-halim alladzi la yu’ajjalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Toleran, Yang Tidak Tergesa-gesa); Subhanal-jawad alladzi la yabkhalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Pemurah Yang Tidak Pelit).
Karena itulah Penyebab (adanya) makhluk mewajibkan ummat Muhammad SAW untuk melakukan sujud (sajda) lima kali dalam sehari – lima shalat - dalam kala waktu siang hingga malam. Ini adalah sebuah hadiah kehormatan bagi ummat Muhammad SAW.
Dari Nur Muhammad SAW
Berikutnya Allah SWT membuat sebuah lampu jamrud hijau dari Cahaya,
· dan dilekatkan pada pohon tadi, melalui seuntai rantai cahaya.
· lalu Dia menempatkan ruh Muhammad SAW di dalam lampu itu dan memerintahkannya untuk memuja Dia dengan Nama Paling Indah (Asma al-Husna).
· Perintah itu dilakukannya, dan dia mulai membaca setiap satu dari Nama itu selama 1.000 tahun. dikala dia sampai kepada Nama ar-Rahman (Maha Kasih), pandangan ar-Rahman jatuh kepadanya dan ruh itu mulai berkeringat lantaran kerendahan hatinya.
· Tetesan keringat jatuh dari dirinya, setiap tetes beraroma mawar berubah menjadi ruh seorang nabi menjadi nabi dan rasul.
· Mereka semua berkumpul di sekitar lampu di pohon itu, dan Allah Azza wa Jalla berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Lihatlah! Ini sejumlah besar nabi yang aku ciptakan dari tetesan keringatmu yang menyerupai mutiara.”
· Mematuhi perintah itu, dia memandangi mereka, dan saat cahaya mata itu menyentuh/menyinari objek tersebut, maka ruh para nabi itu sekonyong-konyong tenggelam dalam Nur Muhammad SAW, dan mereka berteriak, “Ya Allah, siapa yang menyelimuti kami dengan cahaya?”
· Allah SWT menjawab mereka, “Ini adalah Cahaya dari Muhammad SAW Kekasih-Ku, dan bila kalian akan beriman kepadanya dan menegaskan risalah kenabiannya, aku akan menghadiahkan kepada kalian kehormatan berupa kenabian.”
· Dengan itu, semua ruh para nabi itu menyatakan keyakinan mereka kepada kenabiannya, dan Allah SWT berkata, “Aku menjadi saksi terhadap pengakuanmu ini,” dan mereka semua setuju. Sebagaimana disebutkan di dalam al Alquran yang Suci:
Dan saat Allah SWT bersepakat dengan para nabi itu : Bahwa aku telah memberi kamu Kitab dan Kebijakan; kemudian akan datang kepadamu seorang Rasul yang menegaskan kembali apa-apa yang telah apa padamu–kamu akan beriman kepadanya dan kau akan membantunya; apa kau sepakat? Dia berkata. Dan apakah kamu menerima beban-Ku kepadamu dengan syarat seolah-olah itu. Mereka berkata, ‘Benar kami setuju.’ Allah SWT berkata, ‘Bersaksilah demikian, dan aku akan bersama kamu di antara para saksi.(Ali Imran, 3:75-76
· dikala dia hingga kepada Nama al-Qahhar, kepalanya mulai berkeringat sekali lagi karena intensitas dari al- Qahhar itu, dan dari butiran keringat itu Allah SWT menciptakan ruh para malaikat yang diberkati.
· Dari keringat pada mukanya, Allah SWT membuat Singgasana dan Hadirat Ilahiah, Kitab Induk dan Qalam, matahari, rembulan dan bintang -bintang.
· Dari keringat di dadanya, Dia membuat para ulama, para syuhada dan para mutaqin.
· Dari keringat pada punggungnya dibuatlah Bayt-al-Ma’mur (rumah nirwanawi), Kabatullah (Ka’bah), dan Bayt-al-Muqaddas (Haram Jerusalem), dan Rawdha-i-Mutahharah (kuburan Nabi Suci SAW di Madinah), begitu juga semua mesjid di dunia ini.
Dari keringat pada alisnya dibuat semua ruh kaum beriman, dan dari keringat punggung cuilan bawahnya (sulbi, coccyx) dibuatlah semua ruh kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung.
Dari keringat di kakinya dibuatlah semua tanah dari timur ke barat, dan apa-apa yang berada di dalamnya. Dari setiap tetes keringat itulah ruh orang beriman atau tak-beriman dibuatnya. Itulah sebabnya Nabi Suci SAW disebut juga sebagai “Abu Arwah”, Ayah para Ruh. Semua ruh ini berkumpul mengelilingi ruh Muhammad SAW, berputar mengelilinginya dengan puji-pujian dan pengagungan selama 1.000 tahun; lalu Allah SWT memerintahkan ruh-ruh itu untuk memandang ruh Muhammad SAW. Ruh-ruh tersebut mematuhinya.
Siapa Memandang kepada Ruh Muhammad SAW
Nah, di antara mereka yang pandangannya jatuh pada kepalanya ditakdirkan menjadi raja dan kepala negara di dunia ini. Mereka yang memandang pada dahinya menjadi pemimpin yang adil. Mereka yang memandang matanya akan menjadi hafiz Kalimat Allah SWT (yaitu seorang yang memegangnya ke dalam ingatannya). Mereka yang memandang alisnya akan menjadi pelukis dan artis. Mereka yang memandang telinganya akan menjadi orang yang menerima peringatan dan nasihat. Mereka yang melihat pipinya yang penuh berkah menjadi pelaksana karya yang bagus dan pantas. Mereka yang melihat mukanya menjadi hakim dan pembuat wewangian, dan mereka yang melihat bibirnya yang penuh berkah menjadi menteri.
Barang siapa melihat mulutnya akan menjadi orang yang banyak berpuasa. Barangsiapa yang melihat giginya akan menjadi kelihatan bagus/cantik, dan siapa yang melihat pengecapnya akan menjadi utusan/duta raja-raja. Barang siapa melihat tenggorokannya yang penuh berkah akan menjadi khatib dan mu’adzin (yang mengumandangkan adzan). Barang siapa memandang janggutnya akan menjadi pejuang di jalan Allah SWT. Barang siapa memandang lengan atasnya akan menjadi seorang pemanah atau pengemudi kapal bahari, dan barang siapa melihat lehernya akan menjadi usahawan dan pedagang.
Siapa yang melihat tangan kananya akan menjadi seorang pemimpin, dan siapa yang melihat tangan kirinya akan menjadi seorang pembagi (yang menguasai timbangan dan mengukur catu kebutuhan hidup). Siapa yang melihat telapak tangannya menjadi seorang yang gemar memberi; siapa yang melihat belakang tangannya akan menjadi kolektor. Siapa yang melihat serpihan dalam dari tangan kanannya menjadi seorang pelukis; siapa yang melihat ujung jari tangan kanannya akan menjadi seorang kaligrafer, dan siapa yang melihat ujung jari tangan kirinya akan menjadi seorang pandai besi.
Siapa yang melihat dadanya yang penuh berkah akan menjadi seorang terpelajar, meninggalkan keduniaan (zuhud) dan berilmu. Siapa yang melihat punggungnya akan menjadi seorang yang rendah hati dan patuh pada aturan syariat. Siapa yang melihat sisi badanya yang penuh berkah akan menjadi seorang pejuang. Siapa yang melihat perutnya akan menjadi orang yang puas, dan siapa yang melihat lutut kanannya akan menjadi orang yang melaksanakan ruku dan sujud. Siapa yang melihat kakinya yang penuh berkah akan menjadi seorang pemburu, dan siapa yang melihat telapak kakinya menjadi orang yang suka bepergian. Siapa yang melihat bayangannya akan mejadi penyanyi dan pemain saz (lute). Semua yang memandang tetapi tidak melihat apa-apa akan menjadi kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung. Mereka yang tidak memandang sama sekali akan menjadi orang akan menyatakan bahwa dirinya yaitu dewa, seolah-olah Namrud, Fir’aun dan sejenisnya.
Kini semua ruh itu diatur dalam empat baris.
· Di baris pertama bangkit ruh para nabi dan rasul,
· Di baris kedua ditempatkan ruh para orang suci, para teman Allah SWT;
· Di baris ketiga bangkit ruh kaum beriman, pria dan wanita;
· Di baris keempat bangun ruh kaum tak-beriman.
Semua ruh ini tetap berada dalam dunia ruh di Hadirat Allah SWT hingga waktu mereka tiba untuk dikirim ke dunia fisik.
Tidak seorang pun tahu kecuali Allah SWT yang tahu berapa selang waktu dari waktu diciptakannya ruh penuh berkah Nabi Muhammad SAW sampai diturunkannya dia dari dunia ruh ke bentuk fisiknya itu.
Diceritakan bahwa Nabi Suci Muhammad SAW bertanya kepada Malaikat Jibril AS,
· “Berapa usang sejak engkau diciptakan?”
· Malaikat itu menjawab, “Ya Rasulullah SAW, saya tidak mengetahui jumlah tahunnya, yang saya tahu bahwa setiap 70.000 tahun seberkas cahaya gilang gemilang menyorot keluar dari belakang kubah Singgasana Ilahiah; semenjak waktu saya diciptakan cahaya ini muncul 12.000 kali.”
· “Apakah engkau tahu apakah cahaya itu?” tanya Muhammad SAW.
· “Tidak, saya tidak tahu,” malaikat itu berkata. “Itu yaitu Nur ruhku dalam dunia ruh,” jawab Nabi Suci SAW. Pertimbangkanlah kemudian, berapa besar jumlah itu, kalau 70.000 dikalikan 12.000!
Wa min Allah at tawfi
0 Response to "Penciptaan Nur Nabiyullah Muhammad SAW"
Post a Comment