-->

Al Imam An-Nibras Umar bin Abdurrahman Al-Attas

“Diantara insan ada yang berbekal sebuah tempat air (rahmat Allah) yang mulus, sehingga ia dapat mengambil air yang mencukupinya selama satu tahun, dan ada yang hanya dapat membawa air yang mencukupinya selama satu hari, dan ada pula orang yang mampu membawa air yang mencukupinya sepanjang umurnya.” “Di zaman ini sumber air (rahmat Allah) untuk diminum tidak berkurang, tetapi mereka tiba dengan membawa tempat air yang bocor. Melakukan taat dengan memakan barang yang haram, bagaikan mengambil air dengan wadah yang berlubang.”
“Mudah bagi seorang wali menobatkan orang lain sebagai penerusnya untuk menjadi wali. Yang sulit adlah bagaimana memelihara maqam wilayah (status kewalian).”

Al Imam An-Nibras Umar bin Abdurrahman Al-Attas

Beliau adalah Al Imam Al ’Alim Al “Allamah Al Wali Al Quthbu Al ‘Arif billah As-Syekh Al Barakah Al Qudwah Al Habib Umar bin Abdurrahman bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf Al-Alawi. dia mempunyai marga Al-Attas tapi nasab kakek-kakenya dari marga Assegaf. Ibunda dia berjulukan Syarifah Muznah binti Muhammad Al-Jufri. Beliau lahir sekitar tahun 992 H di kota Lisk, sebuah perkampungan dekat kota ‘Inat, sebuah kota wali di wilayah Hadhramaut. Di kota ini pula beliau menghabiskan masa kecilnya dan dibesarkan dibawah asuhan dan bimbingan ayahanda dia sendiri Al Habib Abdurrahman bin Aqil Al-Attas. dia merampungkan pendidikan dasar dibawah bimbingan saudara sepupu Al Habib Husein bin Syekh abu Bakar bin Salim. dia ialah salah satu anak ajar pamannya yaitu Al Imam Al Kabir Syekh bubuk Bakar bin Salim yang menyayangi beliau. dia juga diasuh oleh saudara kandungnya sendiri yang berjulukan Al Habib Aqil bin Abdurrahman.
Ayahanda ia terkenal bersih hatinya. Masyarakat di negerinya itu sangat hormat kepadanya dan juga sering dimintai do’a, lantaran terbukti dalam dirinya beberapa karamah, sehingga dia sangat disegani dan dicintai oleh masyarakat di sana.
Sejak kecil Al Habib Umar Al-Attas telah kehilangan penglihatan kedua matanya (tuna netra), namun Allah SWT menggantinya dengan penglihatan hati nurani yang jauh lebih jelas dan kecerdasan yang luar biasa serta adh-dhabithu al-qawiyyu (daya ingat yang kuat) sehingga mampu dengan mudah menghafal apa saja yang beliau dengar.
Ayahanda beliau pernah bertanya kepada salah seorang guru Al Habib Umar Al-Attas yang berjulukan Syekh Al Mu’allim bin Aqil Al-Junaidi Bawazir “Anda sangat sayang kepada Umar, apakah karena dia tuna netra?” Syekh Al Mu’allim menjawab, “Dia tuna netra lahirnya, tetapi jelas dan bersinar hati nuraninya.”
Sejak kecil ia sudah gemar beribadah dan menjaga kebersihan zhahir maupun bathin. Dari tempat beliau di kota Lisk, beliau seringkali keliling ke masjid-masjid di kota Tarim, dan tidak jarang beliau menimba air dari beberapa sumur untuk memenuhi kolam masjid-masjid tertentu.
Al Habib Umar Al-Attas adalah seorang ulama agung dan pemimpin yang arif pada zamannya, sehingga beliau tercatat sebagi da’I besar yang hidup di wilayah Amad dikala itu. Namun karena sifat rendah hatinya yang terkenal itu, ia tidak begitu terkenal sebagaimana ulama lainnya yang hidup di tempat dan zaman yang sama.
Ketinggian ilmu, budbahasa dan tasawuf beliau antara lain dapat dilihat pada kebesaran Al Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (w. 1132 H) yang merupakan pemilik Ratib Al-Haddad yang pernah menjadi anak asuh beliau.
Salah satu bukti kebasaran Al Habib Umar Al-Attas yaitu kesaksian Al Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dimana dia pernah mengatakan “As-Sayyid Al Habib Umar Al-Attas ialah sosok manusia yang mempunyai hati yang nrimo, figur kebenaran, seorang hamba yang selalu tekun beribadah kepada Allah SWT dan tidak pernah maksiat kepadaNya dengan mengikuti hawa nafsu dan keinginan dirinya.”
Sebagiamana lazimnya ulama shalihin, Al Habib Umar Al-Attas sejak kecil telah dijaga oleh Allah SWT dari segala apa yang diharamkan. Penglihatan mata zhahir dia membisubil oleh Allah SWT dan diganti dengan penglihatan bathin yang jauh lebih tajam dan berharga, dimana hal ini menjadi salah satu pendorong dia lebih dekat kepada Allah SWT. dia tuna netra tapi tidak buta mata hatinya.
Dalam satu riwayat yang diterima oleh Al Habib Ali bin Hasan Al-Attas dari Al Habib debu Bakar bin Muhammad Bafaqih Qaydun wacana ciri-ciri beliau, yaitu tidak pendek dan tidak pula tinggi, tampan, berjenggot lebat, berwibawa, dan selalu bau. dia sangat gemar dengan wangi-wangian. Di pinggang kiri ia ada tumbuh sesuatu seakan-akan mata cincin.
Guru-gurunya

Al Habib Umar Al-Attas belajar dari semua guru yang pernah belajar dari Al Imam Al Kabir Syekh debu Bakar bin Salim Shahib ‘Ainat dan dengan putra-putra dia ssendiri seperti Al Habib Husein, Al Habib Hamid, Al Habib Mudhar. beliau tidak berguru kepada Al Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi Shahib syi’ib. suatu ketika ia ditanya “Mengapa Anda tidak datang kepada Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi?” beliau menjawab, “Cahaya muka beliau menembus mata, sehingga saya tidak dapat melihatnya.” Diantara guru ia adalah Al Habib Muhammad bin Abdurrahman Al-Hadi bin Isa Barakwah As-Samarqandi. ia juga sering datang kepada Asy-Syekh Ahmad bin Sahl bin Ishaq yang sangat erat hubungannya dengan Al Habib abu Bakar bin Abdurrahman bin Muhammad Bafaqih di Qaydun, serta beberapa guru dan Syekh terkenal pada kala itu yang telah ia hubungi.
Adapun guru utama beliau adalah Al Habib Husein bin Syekh debu Bakar bin salim bin Abdullah yang sangat dikagumi dan dihormatinya, sehingga jika nama gur unya itu disebut orang, maka wajah dia tampak berubah.
Asy-Syekh Ali bin Abdullah Baaras berkata, “Al Habib Umar pernah bercerita, pada suatu hari saya tiba kepada Al Habib Husein bin Syekh Abu Bakar, ingin memperoleh dari beliau tentang beberapa Cara kaum sufi, waktu itu ia sedang berada di majelis yang penuh dengan hadirin. Beliau berkata, “Hai Umar, siapa yang tidak mengerti denganisyarat maka tidak akan bermanfaat baginya ucapan atau kalimat, dan siapa yang tidak paham dengan sindiran maka dia tidak paham dengan klarifikasi, karena penjelasan menurut mereka kaum sufi hanya akan menambah ketidakjelasan.” Kemudian Al Habib Husein berbicara terus dengan ucapan yang samar-samar yang tidak simpel dipahami oleh orang-orang biasa.
Menerima Thariqah dan Ijazah
Al Habib Umar menerima aliran thariqah sufi (shufi) dan ijazah sekaligus pakaian khirqah (pakaian sufi) dari guru utama beliau, Al Habib Husein bin Syekh debu Bakar bin salim yang diterimanya dari ayahandanya dan dari datuknya, Asy-syekh Umar Al-Muhdhar dan yang diterimanya dari ayah dan kakeknya sampai kepada Al Faqih Al Muqaddam. Sedangkan Al Faqih Al Muqaddam dala silsilah spiritual beliau mempunyai dua jalur; pertama dari ayahanda dan sesepuh ia sendiri hingga kepada Rasulullah SAW, kedua dari Syekh debu Madyan At-Tilmisani yang balasannya juga sampai kepada Baginda Rasulullah SAW. Selain menerima ajaran-ajaran sufi dari para tokoh mulia dari kalangan ‘Alawiyyin, dia juga menerima talqin (piwulang) La ilaha Illallah, juga beberapa dzikir, diantaranya yang dikenal dengan “Dzikir Tauhid” yang biasa dibaca setelah shalat Ashar dan Shubuh serta dibaca saat berziarah di pusara dia. Dzikir itu beliau terima dari Syekh Umar bin Isa Barakwah As-Samarqandi yang dimakamkan di daerah Ghurfa Ba’ubbad. Dan Al Habib Umar juga memperoleh mushafahah dari As-Sayyid Muhammad Al-Hadi bin Abdurrahman bin Syihabiddin yang beliau terima juga dari para datuknya secara turun temurun, sebagaimana tertulis dalam kitab Al-Barqah.
Imam Al Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Saddad bin Aus RA, ia berkata, “Kami sedang bersama Nabi SAW, tiba-tiba beliau bersabda, “Angkatlah tanganmu dan ucapkanlah La ilaha Illallah.” Maka kami mengucapkannya. Kemudian ia berdoa : “Ya Allah, Engkaulah yang mengutusku dan Engkau pula yang menjanjikan sorga bagi kami, sungguh Engkau tidak akan mengikari kesepakatan.” Selanjutnya dia berkata, “Bergembiralah kau sekalian karena Allah telah mengampuni kau sekalian.”
Murid-muridnya
Mereka (murid-murid) yang pernah mencar ilmu dari Al Habib Umar Al-Attas, baik yang senantiasa hadir di majelis beliau atau yang mengambil pelajaran ketika dia berkunjung ke berbagai kawasan. Sebagian dari mereka yang mampu kami cantumkan diantaranya putra-putra beliau sendiri, mereka adalah Al Habib Husein, Al Habib Salim dan Al Habib Abdurrahman. Juga saudara ia Al Habib Aqil, dan para tokoh yang ada di periode itu, baik dari kalangan “Alawiyyin maupun dari golongan lain. Ada dongeng menarik yang diceritakan oleh murid khusus beliau, yaitu Al Habib Isa bin Muhammad Al-Habsyi, pada suatu saat Al Habib Isa mencukur rambut Al Habib Umar Al-Attas, kemudian terlintas dalam hati Al Habib Isa bahwa Al Habib Umar Al-Attas mempunyai maqam (derajat) yang agung padahal dia tuna netra. Seketika itu beliau mengetahui isi hati Al Habib Isa, lalu ia berkata “Kalau begitu kau juga harus buta.” semenjak dikala itu Al Habib Isa mengalami buta hingga balasan hayatnya.
Al Habib Umar Al-Attas biasa mengisi waktu-waktu malamnya dengan bermudzakarah dalam ilmu-ilmu yang bermanfaat bersama para muridnya hingga menjelang fajar. dia pun sering mengulang-ulang do’a qunut yang biasa di baca waktu shalat Shubuh mulai selepas shalat Isya hingga waktu fajar.
Wira’i dan Khumul
Sifat wara’ atau wira’i yaitu sifat menjauhi segala yang subhat apalagi yang haram. Itulah di antara beberapa sifat mulia yang dimiliki Al Habib Umar Al-Attas. beliau tidak berkenan menerima hadiah atau perlindungan dari penguasa atau sultan, juga menolak kuliner atau hadiah dari orang-orang yang melakukan pekerjann riba. Semua perlindungan mereka beliau tolak dengan perilaku baik dan bijaksana. Beliau berpakaian sangat sederhana dan serba putih. Hasil tenunan daerah setempat yang terbuat dari benang kapas yang agak kasar dan murah itulah yang selalu ia kenakan. beliau tidak pernah mengenakan pakaian berwarna hitam dan celupan. Dan dalam hal makanan beliau tidak memilih-milih, mendapat segala apa saja yang dihidangkan untuknya, asalkan makanan dan minuman itu halalan thayyiban. dia juga tidak mengambil kuliner yang jauh dari tempat duduknya maupun jangkauannya. Kendaraan satu-satunya yang ia gunakan yaitu keledai. Tetapi sering juga beliau berjalan di bawah terik matahari yang panas.
Sabar dan Mulia
Al Habib Umar Al-Attas adalah seorang sufi agung, pejuang ke jalan yang lurus dan benar, pendidik dan pembimbing rohani yang sabar dan berilmu tinggi. Berbudi bahasa luhur dan mempunyai perilaku lemah lembut terhadap siapapun, juga sebagai pelindung dan pengayom para yatim piatu dan janda serta orang-orang yang lemah. beliau seorang yang teguh, tawakkal dan tabah dalam menghadapi segala macam ujian hidup, menghadapi fitnah dan gejolak yang timbul pada zamannya. dia jarang tidur, bahkan seluruh malam beliau habiskan untuk shalat, berdo’a dan berdzikir serta bermunajat. Beliau selalu tiba memenuhi undangan, walaupun kadang harus dengan susah payah. Dan bila kedatangan tamu, maka dia bertanya kepada mereka, siapakah gerangan diantara mereka yang lebih tua. Maka yang lebih renta itulah yang didudukkan di sebalah kanannya, sedang yang lebih muda di sebelah kirinya.
Sifat utama dia yaitu rendah hati, lemah lembut dan tidak suka menonjolkan diri. Tidak mengharapkan sesuatu pun kecuali karena Allah semata. ia selalu berwajah cerah kepada setiap orang yang bertemu dan berhadapan dengan beliau, sehingga masing-masing mengira bahwa orang itu yang paling akrab dengan beliau. dia benar-benar memiliki akhllaq mulia yang sulit diikuti oleh kebanyakan insan biasa.
Meski begitu ia tidak lepas menghadapi berbagai macam ujian kesabaran dan ketabahannya dalam menegakkan kebenaran dan mengikuti jejak para pendahulunya yang mulia supaya diteladani oleh generasi yang akan tiba.
Sebagaimana juga disebutkan oleh Al Habib Ali bin Al-Attas bahwa tiada seorang Nabi atau wali pun yang berkibar panjinya melainkan dia akan menghadapi permusuhan dan kebencian dari orang-orang yang menentangnya. Kedengkian dan iri hati orang-orang yang membenci Al Habib Umar Al-Attas tidak berhenti walaupun setelah ia wafat. Hingga ketika akan dibangun qubah di atas makam beliau, diantara pemuka masyarakat yang sudah usang memusuhi ia menolak dan berkata sinis, “Kenapa untuk keluarga Al-Attas harus dibangun qubah?”
Rendah Hati dan gemar memberi

Al Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad bercerita ihwal salah satu kepribadian Al Habib Umar Al-Attas, “Beliau menyerupai pohon yang tumbuh berkembang di atas lahan rendah hati dan lemah lembut. Maka cabang dan rantingnya pun demikian juga.” “Ketika saya tiba berkunjung kepada beliau di Khurazhah, saya benar-benar melihat beliau seorang yang berakhlak mulia dan rendah. Apabila dia berada di majelisnya maka tidak berbeda dengan orang lain, baik mengenai tempat duduk ataupun pakaiannya.” Pada sustu malam, Al Habib, Al Habib Umar Al-Attas bertandang ke rumah putranya Al Habib Husein, dan putranya mengira bahwa ayahandanya sudah makan makam di rumah kakaknya Al Habib Salim, maka dia tidak menyediakan makanan. Kemudian ia bertandang ke rumah Al Habib Salim, tapi sang abang pun menduga ayahandanya sudah makan malam di rumah adiknya, maka dia pun tidak menyediakan makan malam untuk dia. Kebetulan ada pelayan keluar membawa roti jagung untuk makanan sapi, maka beliau mengambil sepotong, sambil berkata “Inilah makan malam saya.”
Beliau pun dikenal sangat gemar memberi. Rumah ia selalu terbuka untuk para tamu, fakir miskin dan musafir tanpa membeda-bedakan mereka. Masing-masing disambut dan dilayani menurut keperluannya. ia berpendapat bahwa memberi makan ialah peran penting yang mulia. Sungguhpun demikian dia tidak memaksakan diri dalam menjamu atau menyediakan kuliner bagi para tamu. dia menghidangkan kuliner dan minuman seadanya. Itulah kebiasaan dia, walaupun tamu itu seorang sultan atau pejabat. Dan meskipun para tamu itu tiba di larut malam, beliau tetap menyambutnya dengan baik dan menyuruh anggota keluarga beliau menyediakan makanan dan tempat istirahat.
Wawasan dan Cita-citanya
Al Habib Al-Attas sangat tajam dan luas pemikirannya. pintar membaca situasi dan membaca firasat apa-apa yang bakal terjadi, intuisi tuhan, sehingga yang meminta petunjuk dan pertimbangan dari ia tidak pernah kecewa. Deantaranya ia menyarankan kepada Muhammad Al_Khuraizhi agar mencar ilmu Al-Quran, padahal ia sudah lanjut usia. Maka betul setelah ia berguru, Allah SWT memudahkan baginya. Demikian pula saran beliau kepada Muhammad Al-‘Amri An-Nahdi, agar menanam pohon kurma di tempat yang berjulukan Azabarah. Pada saat itu sebagian temannya menentang dan menakut-nakutinya, karena kezhaliman penguasa waktu itu, tetapi Al Habib Umar Al-Attas terus menganjurkan agar menanamnya. Benar Allah SWT pun memberkati dan melindungi tumbuhan itu serta terhindar dari segala kekhawatiran. Demikian juga anjuran beliau kepada Sultan Badar bin Abdullah Al-Katiri, supaya jangan memerangi kelompok Zaidiyyah. Tetapi ia tidak mengindahkan proposal dia. Hasilnya, ia kalah dalam peperangan melawan kelompok itu dan pasukannya ditundukkan. Dan masih banyak lagi pemikiran dan wawasan beliau yang tidak dapat semuanya kami tulis.
Ungkapan dan Petuah
Ungkapan-ungkapan dia bail sebagai bau tanahh atau kalam pesan tersirat antara lain :
“Allah akan memberi setiap orang menurut niatnya dan kebersihan hatinya.”
“Lihatlah keadaan dirimu, bila engkau suka dikala akhir hayat tiba menjemput dirimu dalam keadaan demikian, maka pertahankanlah. Bila engkau dalam keadaan tidak disukai ketika ajal menjemputmu, maka tinggalkanlah.”
“Tidaklah seorang yang tekun melaksanakan taat kepada Allah SWT melainkan memperoleh restu dari seorang wali, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.”
“Di zaman ini, sumber air (rahmat Allah) untuk diminum tidak berkurang, tetapi mereka datang dengan membawa tempat air yang bocor. melaksanakan taat dengan memakan barang yang haram bagaikan mengambil air dengan wadah yang berlubang.”
“Barangsiapa mendo’akan orang zhalim (agar mendapat hidayah dan kecukupan) maka dia akan selamat dari kejahatan orang tersebut.” Pada suatu ketika Al Habib Umar Al-Attas melihat sekelompok orang hanyut dalam kemaksiatan hingga melupakan rasa lelah dan kantuk mereka, beliau berkata “Lihatlah mereka yang tidak pernah merasa lelah ataupun kantuk. Begitu pula halnya dengan para ahli ibadah yang melupakan rasa lelah dan kantuk mereka karena kecintaan mereka terhadap ibadah.”
“Al-Khumul Al-Khumul. Ad-Dafn Ad-Dafn !”
Ini merupakan seruan dan usul beliau (kepada murid-muridnya) biar selalu menyembunyikan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Tiada lagi sesuatu yang mampu dilakukan kecuali semata-mata lantaran keikhlasan kepada Allah.
“Sabar akan membawa akibat baik. Sabar menjadi sumber segala kebaikan. Sabar akan diabadikan oleh Allah. Segala puji bagi Allah, apa yang Dia tentukan pasti wujud, dan apa yang Dia takdirkan niscaya terjadi.
Apabila sudah masuk waktu shalat, sementara imam masjid masih duduk di tempatnya, maka beliau menyuruhnya pergi untuk adzan, dan tidak dibenarkan tinggal diam di sana dengan berpangku tangan.
“Suka menonjolkan diri dan gemar memperoleh kedudukan di mata orang banyak ialah penyakit yang tidak ada obatnya.”
Ketika dia menjumpai seseorang yang melaksanakan bersumpah palsu maka ia melarangnya sambil mengucapkan, “Engkau bukan penghuni neraka, saya tidak ingin engkau masuk ke dalamnya.”
Ketika putra ia wafat, dan banyak orang berta’ziyah kepadanya, beliau berkata, “Alangkah entengnya musibah agama bagi kalian. Demi Allah, seandainya saya ketinggalan shalat berjama’ah, tidak seorang pun yang datang berta’ziyah.” Maksud beliau, andaikata beliau ketinggalan shalat berjama’ah maka hal itu lebih berat bagi ia dari kematian seorang anak.
Dan ketika ada seorang yang berkata kepada beliau, mengapa ia dan anak-cucu beliau tinggal di negeri terpencil jauh dari kota-kota besar yang terkenal sebagaimana para pendahulu yang saleh, seakan-akan di kota Tarim, Hadhramaut dan lain-lainnya. ia menjawab, “Tempat itu menjadi baik karena penghuninya, dan negeri ini kamilah yang akan memperindahnya dan memjadikannya baik.”
Beliau pernah bercakap-cakap dengan beberapa orang sahabatnya yang pernah dianjurkan berdakwah di beberapa tempat. dia berkata kepada orang-orang yang hadir, “Bila kamu membaca suatu kitab dan disebut nama Nabi dan engkau seorang diri maka sebutlah keluarga dan sahabat beliau, dan bila engkau di dekat orang banyak dan mustahil menyebutnya, maka mereka pun sudah termasuk karena niatmu.”
Menjelang Wafat

Beberapa arahan telah menunjukkan bahwa kematian dia sudah dekat. Diantaranya ketika dia ditanya usia, ia menjawab, “Delapan puluh, dan sekarang sudah sampai waktunya.” Sebagaimana telah dituturkan putra dia, Al Habib Abdullah. Dalam suatu riwayat dikisiahkan bahwa dia menyampaikan khutbah shalat Jum’at di kota Nafhun, dan itu merupakan kunjungan terakhir beliau kesana. Diantara isi khutbah itu, dia memberikan nasehat dan pesan yang mengharukan sebagaimana lazimnya jikalau ia berkhutbah. Beliau mengingatkan ummat semoga selalu bertaqwa kepada Allah SWT, mematuhi semua perintahNya dan selalu menjauhi semua laranganNya. beliau menekankan perihal pentingnya shalat dan zakat serta perintah-perintah agama, dan mengingatkan akan Hari Pembalasan yang pasti tiba. Dalam mengakhiri khutbahnya, dia berkata : “Ya Allah, saksikanlah! karena Engkau sebaik-baik saksi.” Diantara yang hadir waktu itu—konon Syekh Muhammad bin Abdul Qadir Baqais—berkata kepada putra beliau yang bernama Al Habib Husein Al-Attas, “Ayahandamu tampaknya tidak akan hidup usang lagi. Tidakkah engkau dengar apa yang dia katakan kepada orang banyak tadi?”
Al Habib Isa bin Muhammad Al-Habsyi bercerita, ia pergi sowan kepada beliau di Khuraizhah menjelang wafat ia. Tapi beliau tidak dijumpainya di sana lantaran berada di kota Lahrum. Maka ia bersama teman-temannya pun ke sana. Sesampai di sana mereka mendapat kabar bahwa beliau berada di kota Haurah. Mereka pun segera pergi kesana, dan ternyata di sana pun dia tidak ada. Bahkan mereka memperoleh kabar bahwa beliau sedang berada di kota Sabdeh. balasannya mereka pun bergegas menyusul ke sana. Betul, mereka menjumpai dia di kota itu, sedang berada di sebuah rumah. Keluarlah seseorang menyambut mereka dan berkata, “Al Habib Umar menyuruh agar sabar menunggu hingga ada berita.” Tiba-tiba datang Al Habib Ahmas bin Zein Al-Habsy dari Hauthah, yang langsung diberitahu oleh Al Habib Isa bahwa ia sedang menunggu izin untuk masuk. Tidak usang kemudian datang Al Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad bersama beberapa muridnya. Al Habib Umar Al-Attas yang sangat di nanti itu berkenan keluar dan bercakap-cakap dengan mereka, para tokoh Alawiyyin yang mulia yang nota bene adalah murid-murid ia sendiri, dengan tanpa sajian kopi atau tempat duduk sebagaimana lazimnya. Kemudian dia berkata, “Inilah pertemuan terakhir dengan kalian, yang terakhir di dunia ini. Kita akan bertemu lagi, insya Allah, di sana di bawah naungan rahmatNya.”
Selanjutnya beliau berpesan, “Engkau, hai Abdullah Al-Haddad, pergilah dan jangan hingga menjelang sore hari melainkan sudah tiba di kota Hainan.” Dan diberikannya sepotong pakaian. “Dan engkau, hai Ahmad Al-Habsyi, pergilah dan jangan hingga menjelang sore melainkan engkau sudah berada di Hajran.” Juga diberikannya sepotong pakaian. “Dan engkau, hai Isa, malam ini pergilah ke Khuraizhah.” Mereka semua menuju tempat yang ditunjuk sang guru. Di sepanjang jalan mereka memperoleh kehormatan dan sambutan yang luar biasa dari penduduk negeri yang di lalui dan disinggahi oleh mereka.
Dengan syauq (gelora rindu) yang menyelimuti untuk jiwa dan raga beliau untuk menghadap dan bertemu Allah Rabbul ‘Izzati wal-Jalal, beliau pun tidak mencicipi penyakit berat yang dideritanya. Dan sebagaimana dituturkan oleh putra sendiri Al Habib Husein, dia selalu mengulang-ulang dua bait syair dari qashidah Al Habib bubuk Bakar Al-‘Idrus Al-‘Adani, yaitu:
Wajah Kekasihku itulah tujuanku
Aku hadapkan wajahku kepadaNya
Cukup bagiku sebagai tujuan
Dengan penuh tawakkal dan pasrah kepadaNya

Menurutnya, ayahandanya juga mengulang beberapa kali bait syair gubahan Syekh Umar Bamakhramah, yaitu : Seandainya tiada keinginan kepada Allah dan aqidah yang baik
Dan tiada mereka yang menjadi hiasan shaf-shaf di masjid
Aku tidak ingin umurku bertambah
Menghuni kuburan lebih baik dan bermanfaat daripada tinggal bersama mereka yang dengki dan tukang fitnah

Al Habib Husein juga bercerita, apabila penyakit ayahandanya terasa berat, maka ia berkata, “Sebagian ini memang sakit, sebagiannya hubb (cinta) dan sebagiannya lagi ‘isyq (rindu).” Ini seolah-olah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Al Imam Ali bin Abi Thalib kw ketika ia bertanya kepada Rasulullah SAW ihwal sunnahnya. ia bersabda : “Amal kebaikan itu modalku, cinta adalah prinsipku, sedang rindu sebagai kendaraanku, dzikrullah itu hiburanku, rasa murung itu kawanku dan ilmu adalah senjataku. Sifat sabar sebagai bekalku, rela ialah harta keuntunganku, zakat ialah pekerjaanku, yakin adalah kulinerku, benar adalah penolongku, bakti dan taat yang mencukupiku, jihad itu perangku, tegak bangkit di waktu shalat sebagai kegemaranku.”
Menurutnya lagi, “Ayahandaku sering tidak sadarkan diri dalam sakit menjelang wafatnya, namun kalau waktu shalat sudah masuk maka beliau sadar dan ingat kembali.”
Beliau selalu menanyakan salah seorang murid diantara murid-murid lain yang beliau cintai, yaitu Syekh Abbas Abdullah Bahfas, apakah ia sudah tiba dari Khuraizhah. beliau juga berwasiat biar dialah yang memandikan jika beliau wafat. Maka datanglah Syekh Abbas pada malam itu juga, dan bergembiralah hati ia dengan kedatangannya.
Sebelum dia menghembuskan nafas terakhir, beliau minta diwudhukan. Maka Syekh Abbas Abdullah Bahfas mewudhukan beliau dengan selalu berdzikir diiringi pula suara dzikir dari orang-orang yang hadir di sekitar beliau.
Beliau wafat pada tengah malam, hari Kamis tanggal 23 Rabius-Tsani 1072 H di rumah beliau sendiri, di kota Nahfhun, dan dimakamkan di Khuraizhah Hadhramaut Yaman sebuah kota sentra pemakaman para waliyullah dan salafush-shalihin. Tidak terhitung jumlah pengiring yang mengantar seorang waliyullah yang mulia dan dihormati itu. aneka macam rombongan berbondong-bondong datang silih berganti ke pusara. Hujan pun turun dengan lebatnya, membawa berkah dan kesuburan bagi tempat-daerah yang gersang. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmatNya kepada beliau, juga kepada kita yang mengasihinya. Amin.
Malam sehabis wafat dia, banyak para ulama shalihin mimpi bertemu dengan beliau, baik yang ada di Tarim, Hadhramaut maupun yang ada di Dau’an dan sekitarnya. Kesemua itu mengisyaratkan betapa tinggi maqam (pangkat) dan kemulian ia di sisi Allah SWT; di dunia maupun di alam barzakh.

0 Response to "Al Imam An-Nibras Umar bin Abdurrahman Al-Attas"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel