-->

Syetan Itu Memang Cerdas

Begitu viralnya di media mengenai kerasnya suara pengeras suara di masjid dan mushalla sehingga menjadi polemik bagi masayrakat islam di indonesia. Sehingga seseorang yang aktif di media lembaga kaskus menulis artikel di akunnya nama pemilik di akun tersebut ialah "madridist". Pemilik akun mengingatkan artikel yang di tulis oleh almarhum Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yaqub. lantaran teketuk hatinya melihat dan mendengar begitu viralnya perkara pengeras bunyi masjid dan mushalla. Berikut goresan pena "madridist" dari ucapan atau ceramah, KH Ali Mustafa Yaqub.

Beliau bilang syetan itu sangat cerdas. Syetan tidak memberi godaan yg sama kepada semua orang dengan hanya berupa godaan untuk berbuat mencuri, berzina, berjudi, narkoba dan lain sebagainya."Jam terbang iblis dalam menggoda insan sudah sangat usang. Ia tahu betul apa kesukaan insan. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah sholat untuk minum-minuman keras. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika insan beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, maka dikala itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya," tulis dia.

KH Ali Mustafa kemudian mengutip hadist qudsi riwayat Imam Muslim. Dalam hadis tersebut ditegaskan bahwa Allah mampu ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi Muhammad SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka'bah. Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi Muhammad SAW? Kapan Nabi Muhammad SAW memberi acuan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, biar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan lantaran Allah, melainkan lantaran syetan.

Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan, syetan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau syetan tidak pernah menyuruh beribadah. Mereka tidak tahu bahwa sahabat bubuk Hurairah pernah disuruh syetan untuk membaca ayat bangku setiap malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan syetan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.

Kita masih ingat dikala pemerintah berusaha melakukan pemerataan keadilan dengan pembatasan ibadah haji maximal 1 kali seumur hidup, maka reaksi negatif pun banyak bermunculan. Banyak yang mencurigai hukum ini sebagai bentuk pelarangan kebebasan beribadah. Tuduhan sekularisasi dan sebagainya pun bermunculan, termasuk provokasi dalam khotbah-khotbah: "Jika pemerintah ini dibiarkan terus, bukan mustahil satu saat ibadah haji di negeri kita ini akan dilarang!".

Sekarang kasus yg mirip di atas pun terjadi. Terkait protes atas volume speaker mesjid sehabis jatuh vonis atas Meliana pada persidangan di Tanjung Balai. Memang banyak masjid yang tidak peduli atas banyak sekali macam penggunaan speaker luar. Di beberapa masjid di perkampungan masyarakat bahkan hampir semua aktivitas masjid dilakukan dengan menggunakan speaker luar dengan volume yang cukup keras (pekak). Ini tentu didorong oleh iman bahwa setiap acara mesjid jika menggunakan speaker luar yaitu salah satu bentuk syiar agama. Beberapa khutbah yang isinya banyak menghujat orang lain juga dikumandangkan dengan lantang.

Lalu ketika Kemenag mengingatkan kembali bahwa sudah ada tuntunan Ditjen Binmas Islam th 1978 dalam soal penggunaan sepaker masjid ini, apa reaksi yang terjadi? Oleh sekelompok orang, himbauan yang baik ini dipelintir menjadi provokasi: "Mari kita lawan pendzaliman pemerintah ini dengan gerakan menambah jumlah spekaer di setiap mesjid!". "Sekarang di rezim ini adzan mulai di batasi. Bukan mustahil suatu ketika adzan di masjid-masjid di negeri ini akan tidak boleh!"

Rupanya perintah agama supaya kita selalu tabayun dan hudnuzon ini hanya berlaku bagi orang lain, tidak berlaku bagi mereka ini. Mereka merasa sudah beriman, maka setiap pengaturan atas kegiatan ibadah adalah sama dengan memberi tantangan untuk berperang Badar.

Kasus lain yang juga ibarat ialah maraknya penggunaan provokasi politik di ruang publik dengan menggunakan format dakwah yg dianggap punya resiko mengadu domba antar kelompok masyarakat. saat polisi melarang pun mereka seringkali berkelit: "Orang mau berdakwah kok dihentikan! Apakah rezim ini memang sudah menjadi musuh Islam? Rezim ini diam-diam berpaham komunis!"

Orang-orang yang berpikiran pendek pun dengan simpel terhasut dan amarahnya terbakar. Maka khutbah pun banyak yang berisi kedengkian dan fitnah. Tentu mereka akan selalu mengklaim dirinya sebagai orang-orang yang membela Allah. Begitulah godaan syetan bagi orang-orang yang beriman.

Maka teguran dan pengaturan sebaik apa pun tujuannya, tapi bila terkait dengan kegiatan beribadah seringkali akan sulit diterima. Mengapa? lantaran pada dasarnya mereka sangat menikmati posisi untuk selalu mengoreksi orang lain, bahkan dengan mencaci maki.

Itulah goresan pena artikel yang di tulis oleh "madridist" di forum kaskus. Berikut hadist abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كُنا مَعَ رَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَكُنا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَللْنَا وَكَبرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا ، فَقَالَ النبِى – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَيهَا الناسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَم وَلاَ غَائِبًا ، إِنهُ مَعَكُمْ ، إِنهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ ، تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدهُ »

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bila hingga ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian insan. Lirihkanlah bunyi kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha akrab. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704).

Madridist menyimpulkan dan mengatakan, hal ini menunjukkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah suka dengan suara keras saat dzikir dan do’a. Kaprikornus Peraturan Pemerintah wacana Pengeras suara sudah sempurna, hanya orang-orang yang kurang pandai saja yang menganggap ini
adalah pelarangan mengumandangkan adzan. Mereka tidak tahu bahwa ilmu mereka tidak lebih besar dibandingkan pemerintahan. Semoga bermanfaat.

0 Response to "Syetan Itu Memang Cerdas"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel