Khutbah Jumat: Keajaiban Doa
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau perihal aku, maka sesungguhnya saya sangat erat (kepada mereka). saya perkenankan doa orang-orang yang mendoa apabila ia memohon (mendoa) kepada-Ku. karena itu, hendaklah mereka memenuhi (seruan)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, simpel-mudahan mereka menerima petunjuk" (QS. Al-Baqarah : 186).
Setiap insan terkadang tak lepas dari yang namanya menginginkan sesuatu (hajat). Dalam mencapainya harus diraih dengan berusaha dan berdoa, yang mana berusaha dan berdoa tersebut harus berjalan beriringan. bila seseorang hanya berusaha tanpa berdoa berarti telahmengesampingkan kekuasaan Allah Ta'ala, tapi jika seseorang tersebut hanya berdoa saja tanpa usaha (untuk orang biasa/awam) itu juga belum benar. karena emas tidak jatuh dari langit dengan sendirinya.
Berdoa merupakan aktivitas dimana seseorang hamba meminta pemberian kepada Allah Ta'ala wacana berbagai hajat seorang hamba baik di dunia maupun di darul baka. Allah itu bahagia kepada jikalau
hambaNyasering meminta perlindungan, semakin sering diminta semakin senang, tapi sebaliknya jikalau seorang hamba meminta pemberian kepada selain Allah, maka Allah Ta'ala tidak suka kepada orang tersebut.
Beda dengan hambaNya, terkadang ada seseorang yang dimintai sesuatu oleh temannya, minta satu dua kali dikasih, tetapi kalau mintanya serlalu sering malah yang ada rasa jengkel. Kita tahu bahwasannya Allah Ta'ala dengan segala sifat kesempurnaanya menunjukkan kepada kita sifat kedermawaan-Nya ketika seorang hamba itu memohon doa. Firman Allah Ta'ala, "Berdoalah, maka akan saya kabulkan", (QS. Ghofir: 60). Jadi, doa yang dipanjatkan setiap hamba pasti dikabulkan, lantaran itu sudah kesepakatan Allah Ta'ala. Tapi doa tersebut mampu diwujudkan berupa beberapa kemungkinan, yaitu:
Pertama, doa tersebut dikabulkan dan waktu yang singkat. Kedua, dikabulakn tapi waktunya dirunda mampu dikasih di dunia atau di alam baka kelak. seolah-olah kisah Nabi Musa dan Nabi Harun AS. Allah sudah berfirman bahwa fir'aun tidak akan beriman. kemudian mengapa Allah tetap menyuruh supaya nabi musa tetap berdakwah kepada Fir'aun, bukan lain supaya Nabi Musa mampu istiqomah dalam berjuang mengajak Fir'aun ke jalan yang benar dan Nabi Musa bisa menerima pahala yang banyak atas perjuangannya.
Nabi Musa berdoa semoga Fir'aun dimusnahkan, doa dia dikabukan tapi tidak seketika, sehabis tamat berdoa dan dikabulkan sesudah terpaut 30 tahun sejak doa itu dipanjatkan. lantaran doa akan dikabulkan pada dikala yang tepat.
Pada suatu hari, Malaikat Jibril bermetamorfosis menjadi seseorang pengemis. lalu masuk ke kerajaan Fir'aun. Dengan praktisnya Malaikat Jibril masuk dan mendekati singgahsana dari Fir'aun. Fir'aun sedikit gundah mengapa tiba-tiba ada pengemis disini. "Wahai pengemis, ada apa gerangan engkau tiba kesini?" tanya Fir'aun. Kemudian pengemis tersebut menjawab "Wahai Fir'aun, aku kesini hanya ingin bertanya kepadamu. Apa sanksi yang cocok untuk seorang budak atau hamba sahaya yang sudah dicukupi semua kebutuhan hidup oleh tuannya tersebut dan tidak mau mentaatinya?". Fir'aun kemudian menjawab, "Budak seolah-olah itu pantasnya ditenggelamkan saja kelaut". sehabis menerima balasan tersebut pengemis jelmaan Malaikat Jibril itu pamit diri.
Kemudian Malaikat Jibril mendatangi Nabi Musa dan berkata, "Wahai Musa, sesungguhnya pada dikala ini Fir'aun telah siap mendapatkan akbiat dari perbuatan sombongnya". Kemudian Allah Ta'ala memerintahkan Nabi Musa dan kaumnya yang berjumlah sekitar 600.000,- oarng untuk pergi meninggalkan kota. Fir'aun yang mengetahui bahwa Nabi Musa dan umatnya melarikan diri murka besar, lantaran dianggap melanggar larangannya yang pernah disampaikan kepada Nabi Musa. Nabi Musa dan kaumnya berangkat, dibelakangnya menyusul Fir'aun yang menunggang kuda dan 1,6 juta
prajuritnya.
Pada risikonya, hinggalah Nabi Musa dan kaumnya ditepi maritim Merah. Nabi Musa menunggu perintah, kemudian Allah Ta'ala memerintahkan Nabi Musa untuk memukul tongkatnya ke tanah. Seketika itu bahari terbelah, terbentang jalan lebar dan kering (biasanya laut itu penuh lempur, tapi
karena kuasa Allah Ta'ala tanah dilaut tersebut langsung kering). Kemudian Nabi Musa dan para pengikutnya menyeberang. Disaat bersamaan Fir'aun ragu, apakah dia harus menyeberang untuk mengejar nabi musa atau tidak, lantaran melihat pemandangan yang tidak biasa tersebut.
Malaikat Jibril kemudian menyamar menjadi seorang yang menunggangi seekor kuda betina, yang menarik perhatian kuda jantan yang ditunggangi Fir'aun mengejar kuda betina tersebut ketengah lautan yang terbelah tersebut. Pada saat Nabi Musa dan kaummnya sudah sampai di seberang, Allah Ta'ala mengembalikan air maritim tersebut yang menenggelamkan Fir'aun. saat itu Fir'aun bertaubat dan mengakui kebenaran pemikiran Nabi Musa. Tapi semua itu sudah terlambat.
Jadi, bergotong-royong yang meminta ditenggelamkan itu ya Fir'aun sendiri. lantaran, sebagai hamba dia membangkang kepada majikannya yaitu Allah Ta'ala yang telah mencukupi kehidupannya di dunia.
Ketiga, doa dikabulkan tetapi diganti dengan bentuk yang lain. contohnya, ada oarng miskin yang berdoa supaya diberikan kekayaan, tetapi oleh Allah Ta'ala tidak dikabukan lantaran, boleh Makara jika di turuti menjadi orang kaya sesungguhnya malah tidak besar lengan berkuasa imannya, bisa-bisa tidak sholat dan kufur nikmat. Mungkin, bisa Kaprikornus doanya diganti dengan menerima anak yang sholeh atau menerima ilmu yang barokah, atau kesehatan dan lain-lain.
Oleh lantaran itu, banyak sekali keutamaan yang didapat ketika seseorang mau berdoa. karena berdoa itu ialah puncaknya ibadah. Allah sangat suka kepada hambanya yang mau memperbanyak doa, semakin banyak semakin elok, tapi jangan lupa usaha juga.
-----------------------------
Penulis : Tomy Andre Ansyah
Santri aktif Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading dan menempuh pendidikan S1 jurusan Fiskia Univesitas Negeri Malang.
Buletin Jumat/1098/14-sept-18
0 Response to "Khutbah Jumat: Keajaiban Doa"
Post a Comment