-->

Dunia Islam dan Agama Islam


Allah berfirman dalam kitab-Nya, “Kamu yaitu umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. Ayat ini menunjukkan fitrah bagi seluruh umat islam untuk menyampaikan kebaikan dan melarang kemungkaran. Sedangkan firman Allah Ta’ala lainnya, “Serulah manusia ke jalan yang kuasamu dengan hikmah dan pelajaran yang baik”, menunjukkan perintah bagi para ‘Alim ‘Ulama alasannya mereka dibekali dengan nasihat dan ilmu pengetahuan tentang agama. Tersebut dalam sebuah hadits : “Agama adalah  nasihat”. Kami (para teman) bertanya, “Untuk siapa ya Rasulullah?” Rasulullah berkata, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum awamnya”.
Sayyid Muhammad Al-Maliki rhm berkata, ”Sejak Nabi diutus da’wah telah ada, sekarang kita tinggal pilih: berda’wah atau membisu, tapi siapa yang memerintahkan kita untuk membisu dari kebaikan? Siapa yang memerintahkan kita untuk tidak mendorong masyarakat semoga berbuat baik dan takwa? Siapa yang memerintahkan kita untuk tidak mencegah masyarakat dari perbuatan buruk?. Meskipun kita lemah, kita harus menunaikan perintah Allah, dan meneladani orang-orang baik. Kepada orang-orang yang mencaci kita, kita akan membantu mereka semampu kita. Inilah akhlak Nabi MuhammadJ”. (Manhaj Da’wah)
Firman Allah Ta’ala: ”Tetapi kalian tidak menyukai nasihat”  (QS Al-A’raf:79).
Sayyid Muhammad Al-Maliki berkata, “Kebenaran itu pahit rasanya, lantaran itu gunakanlah klarifikasi yang mudah diterima, da'wah tidak harus selalu berupa nasihat. tulisan yang baik terkadang lebih berkesan”.
Dunia mempunyai keterbatasan, tetapi hasrat manusia tidak terbatas. pada dasarnya manusia hanya membutuhkan cukup kuliner, cukup pakaian untuk menghangatkan tubuh dan sebuah rumah untuk berteduh. Jangan diperbudak oleh terlalu banyak keinginan. karena kita hanyalah mendapatkan apa yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Banyak atau sedikit yaitu sama yakni miqdar (ukuran) dalam mencapai kepuasan, yang membedakan ialah tidak pernah adanya kecukupan. Tersebut dalam ayat,
 
إِ نَّ النَّفْسَ َلأَمَّارَةٌبِالسُّـؤءِ  ( يوسف 53)
"Sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada kejahatan"(QS Yusuf 53). 
 Adalah suatu kebijaksanaan dan anugerah dari Allah yang patut disyukuri bahwa manusia diciptakan memiliki hasrat, dengan hasrat, manusia akan bertahan dan mencapai kemajuan dalam kehidupan, namun yang menjadikan buruk adalah bila insan tidak mampu mengendalikan hasrat tersebut. Ini merupakan hal yang sulit dan pelik lagi tersembunyi dalam nurani antara gerak hati yang mengajak kebaikan dan yang mengajak kepada kejahatan, mana yang paling mendominasi, maka kearah tersebutlah manusia akan berjalan. Hanya bagi mereka yang mau berusaha untuk mengetahui hal ihwal keadaan yang tersembunyi tersebut atau mereka yang memang dikehendaki-Nya yang mendapat pertolongan-Nya hingga mulia dihadapan Allah Ta'ala.
Dalam kehidupan masyarakat akil balig cukup akal ini terlihat positif pemisahan antara ajaran atau tuntunan dalam agama dengan keseharian kita, ceramah hanya dijadikan tontonan atau hiburan dengan dalih siraman rohani, namun tuntunannya tidak diwujudkan dengan perbuatan. "Muslimin dikala ini diibaratkan seekor ikan yang mendengar percakapan dua orang manusia bahwa air adalah sumber kehidupan, si ikan kagum dengan objek yang dibicarakan dan ingin mengetahui bagaimana air tersebut, padahal si ikan tersebut hidup dalam air" (Perkataan Ulama). Begitu pula kaum muslimin ketika ini, kita yakin bahwa Al-quran yaitu sumber petunjuk, dan kita berada Negara yang lebih banyak didominasi muslim meyakini bahwa Al-Quran adalah sumber petunjuk, namun kita tidak berusaha untuk mempelajari dan mengamalkannya.
Tuntunan (ajaran agama) merupakan kunci penyelesaian dari segala tuntutan dan masalah yang terbebankan pada kita dalam kehidupan dunia ini dan kehidupan akhirat nanti, alasannya adalah memang islam mengatur segala aspek demi menciptakan suatu kehidupan yang baik serta tenang. Al-Habib ‘Ali bin Muhammad Al-Habsyi berkata, Pada abad ini manusia telah merubah Hadits Nabi,Tuntutlah Ilmu hingga ke negeri China” menjadi “Tuntutlah Dunia (Harta) hingga ke Negeri China”. Sungguh menyedihkan dan memalukan apa yang mereka tuntut.
Pada umumnya tuntutan kebutuhan akan hidup yang dijadikan alasan untuk memenuhi hasrat atau hasrat yang dipenuhi ambisi sehingga meninggalkan atau menyepelekan tuntunan (ajaran agama), dua hal ini sering membuat manusia ,
  1. Tertipu karena ketidaktahuannya (tidak perduli akan pengetahuan agama)
  2. Menipu Allah (secara langsung maupun tidak langsung) hatinya tahu bahwa itu salah, namun memaksa membenarkan tindakannya.
  3. Keadaan yang sama halnya dengan menipu dan mencelakai diri sendiri dan lingkungannya.
Seperti tersirat dalam sebuah ayat,

يُخَادِعُونَ الله َ وَالَّذِينَ ءَامَنُوأ وَماَيَخْدَعُونَ اِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ . (البقرة 9)
"Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedangkan mereka tidak menyadarinya". (al-Baqarah 9), merasa dirinya berbuat kebenaran namun sadar atau tanpa disadari sesungguhnya ia terus berbuat salah dan tercela.  Rasulullah b bersabda:

اِِنَّ الله َ تَعَالَى فَرَضَ فَرَا ئِضَ  فَلاَ تُضَيِّعُوهَا, وَحَدَّحُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا, وَحَرَّمَ اَشْيأَ فَلاَ تَنْـتَهِكُوهَا, وَسَكَتَ عَنْ اَشْيَأَرَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ, فَلاَ تَبْحَثُوعَنْهَا.رواه الدارقطنى وغيره
”Sesungguhnya Allah telah tetapkan beberapa kewajiban, maka janganlah menyia-nyiakannya. Dia telah memilih batasan-batasan, maka janganlah kalian melanggarnya; Dia telah mengharamkan beberapa hal, maka janganlah kalian jatuh kedalamnya; Dia telah mendiamkan beberapa hal karena kasih sayang-Nya kepada kalian dan bukan karena Allah lupa, maka janganlah kalian mencari-carinya”.

Seorang Bijak berkata, “Janganlah kamu mengabaikan yang kuasamu; janganlah kau mengabaikan sesama makhluk; dan janganlah kamu mengabaikan dirimu sendiri”; yang dimaksud dengan mengabaikan dewa yaitu bila seseorang menyibukkan diri untuk melayani sesama makhluk dengan melupakan tuhan, yang dimaksud dengan mengabaikan sesama makhluk adalah bila seseorang berbuat buruk terhadap orang lain atau menyebutkan keburukan-keburukan seseorang dihadapan orang lain, sedangkan mengabaikan diri sendiri adalah seseorang meremehkan kewajiban-kewajiban yang diberikan Allah Ta'ala kepada para hamba-Nya.


Rasul Bersabda :

اَلبِرُّ لاَ يَبْـلَى وَالْلإِثْمُ لاَ يُنْسَى وَالدِّ يَانُ لاَيَفْنَى, وَكُنْ كَمَا شِئْتَ يَعْنِى كَمَا تَدِينُ تُدَانُ.
"Kebaikan Itu tidak akan Rusak, Dosa Itu tidak akan dilupakan, ilahi tidak akan sirna (mati), dan Kaprikornuslah kamu sebagaimana apa yang kau kehendaki, adalah sebagaimana yang kau amalkan akan dibalas". Dan,

لاَصَغِيرَةَمَعَ الإِصْرَارِ وَلاَكَبِيرَةَمَعَ الِإسْتِغْفَارَ.
"Tidak dianggap dosa kecil bila dilakukan terus menerus, dan tidak dianggap besar bila mohon ampun". (Sahabat). Empat hal yang dilakukan setelah perbuatan dosa yang lebih buruk dari perbuatan itu sendiri, yaitu: menganggap remeh, merasa tidak apa apa, merasa senang, dan terus menerus melakukan perbuatan dosa ".

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel