-->

Salafi/Wahabi dan bagaimana Fahamnya - Tolok ukur Tauhid Dan Syirik

Mengkhususkan tema ini pada pembahasan tersendiri. karena di dalamnya terdapat perkara penting yang menjadi pemisah antara tauhid dan syirik, yang luput dari perhatian kalangan Wahabi. Mau tidak mau kita harus mengetahuinya, semoga
kita mampu mengetahui bagaimana menyikapi cara-cara alami dan sebab-sebab gaib. Orang-orang Wahabi berpendapat bahwa bertawassul kepada alasannya-sebab yang alami tidaklah menjadi masalah. seakan-akan memakai sebab-sebab didalam keadaan alami. Akan tetapi berdasarkan pandangan golongan Wahabi/Salafi bertawassul kepada sebab-sebab gaib, seolah-olah misalnya; Anda meminta sesuatu kepada seseorang yang anda tidak akan memperoleh sesuatu itu melainkan melalui Cara-cara gaib, ialah syirik. Ini merupakan kekeliruan yang sangat fatal, dimana golongan ini menimbulkan Tutorial-cara materi dan Tutorial-cara gaib sebagai tolok ukur tauhid dan syirik. Sehingga dapat disimpulkan  bahwa berpegang kepada Tutorial-cara materi berarti tauhid yang sesungguhnya, sementara berpegang kepada Tutorial-cara gaib berarti syirik yang bahwasanya!


Jika kita meneliti lebih mendalam kepada Tutorial ini, pasti kita akan menemukan bahwa tolok ukur tauhid dan syirik berada diluar kerangka Cara-cara ini. Tolok ukur tersebut semata-mata kembali kepada diri manusia dan kepada bentuk keyakinannya terhadap Cara-cara ini. jika seorang manusia meyakini bahwa karena-sebab ini mempunyai kemerdekaan yang terlepas dari kekuasaan Allah swt., maka keyakinannya ini syirik. Sebagaimana acuan yang telah dikemukakan sebelumnya yaitu bila seseorang yakin bahwa suatu obat tertentu dapat menyembuhkan sebuah penyakit secara merdeka dan terlepas dari kekuasaan Allah swt., maka perbuatan orang ini syirik. Walau bagaimanapun bentuk sebab-sebab tersebut, apakah melalui cara-cara alami atau gaib. Yang menjadi dasar dalam kasus ini ialah ada atau tidak adanya keyakinan akan kemerdekaan dari Allah swt. bila seseorang meyakini bahwa semua karena itu tidak merdeka dan tidak terlepas dari kekuasaan Allah swt. –baik didalam wujudnya maupun didalam pinjaman pengaruhnya– dan bahkan dia itu tidak lebih hanya merupakan makhluk Allah swt., yang menjalankan perintah dan kehendak-Nya, maka keyakinan orang ini ialah tauhid yang sesungguhnya.Tidak mungkin seorang Muslim dimuka bumi ini yang mempunyai keyakinan bahwa alasannya adalah tertentu mampu memberikan efek secara merdeka dan terlepas dari kekuasaan Allah swt. Oleh lantaran itu, kita tidak berhak menisbatkan kemusyrikan dan kekufuran kepada mereka.         

Begitu juga halnya dengan tawassul (baca bab Tawassul) kepada para Rasulallah dan para wali, atau tabarruk (baca bab Tabarruk) kepada bekas-bekas peninggalan mereka untuk meminta syafa’at atau yang lainnya, tidak termasuk syirik. Allah swt.telah berfirman perihal alasannya-sebab, dimana Dia menisbatkan sebagian sesuatu  kepada-Nya, dan ada kalanya menisbatkannya kepada yang menjadi alasannya ialah-sebabnya secara eksklusif. Berikut ini kami kemukakan beberapa acuan:

Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat  kokoh.” Ayat ini menekankan bahwa rezeki berada ditangan Allah swt. jikalau kita melihat kepada firman Allah swt. lainnya yang berbunyi, “Berilah mereka rezeki (belanja) dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”. Disini kita melihat rezeki dinisbatkan kepada manusia. 

Pada ayat yang lain, Allah swt. menyatakan Diri-Nya sebagai penanam yang hakiki/sesungguhnya. Allah swt.berfirman;

 اَفَرَءَيْتُمْ مَا تَحْرُثُوْنِ , ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهُ اَمْ نَحْنُ الزَّارِعُوْنَ 

Artinya: "Maka terangkanlah kepadaku wacana apa yang kamu tanam? kamukah yang menanamnya ataukah Kami yang menanamnya ?" (QS. al-Waqi'ah: 63 – 64).
Sedangkan pada ayat yang lain Allah menisbahkan sifat penanaman tersebut kepada insan sebagaimana firman-Nya :

...يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الكُفَّارَ... 

Artinya: Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya (Al-Fath:29).

Pada sebuah ayat Allah swt. menimbulkan pencabutan nyawa berada ditangan-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam surat Az -Zumar:42 : "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati diwaktu tidurnya". Sementara pada ayat yang lain swt. menyebabkan pencabutan nyawa sebagai perbuatan malaikat. Allah swt. berfirman: "Sehingga apabila datang ajal kepada salah seorang diantara kau, dia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya": (QS:al-An'am:61).

Pada sebuah ayat  Allah swt. menyatakan bahwa syafaát hanya khusus milik Allah swt, sebagaimana firman-Nya : "Katakanlah, hanya kepunyaan Allah syafaát itu semuanya" (QS. az-Zumar: 44).

Sementara pada ayat yang lain, Allah swt memberitahukan tentang adanya para pemberi syafa’at selain Allah. Allah swt berfirman; “ Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka  sedikitpun tidak berkhasiat kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhoi-Nya.” (QS. an-Najm: 26). Dalam ayat ini disebutkan bahwa hamba Allah swt bisa memberi syafa’at setelah di izinkan oleh-Nya. Jadi disamping Allah ada hamba-hambaNya –atas izinNya– mampu memberi syafa’at.
Begitu juga telah diketahui oleh kaum muslimin bahwa Rasulallah saw telah diberi wewenang oleh Allah swt untuk memberi syafa’at kepada ummatnya. Pada sebuah ayat Allah menyatakan bahwa pengetahuan terhadap hal-hal yang gaib ialah sesuatu yang khusus bagi Allah,. firman-Nya;                          

قُلْ لاَيَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالاَرْضِ الغَيْبَ الاَّ اللهُ  

"Katakanlah, 'Tidak ada seorangpun dilangit dan di bumi yang mengetahui perkara yang mistik kecuali Allah.'" (QS. an-Naml: 65).

Sementara pada ayat yang lain Allah swt. menentukan para Rasul diantara hamba-hamba-Nya, untuk diperlihatkan kepada mereka hal-hal yang mistik. Allah swt. berfirman:

   وَمَا كَانَ اللهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَي الغَيْبِ وَلَكِنَّ اللهَ يَجْتَبِي مِنْ رَسُوْلِهِ مَنْ يَشَاءُ

"Dan Allah sekali-kali tidak akan menunjukkan kepadamu hal-hal yang mistik, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya diantara Rasul-Rasul-Nya."  (QS. Ali Imran: 179). Sudah tentu Rasulallah saw. berada pada urutan utama dari para Rasul lainnya. Dan masih ada ayat-ayat lainnya yang serupa.

Seorang yang melihat ayat-ayat tadi secara sekilas, mungkin dia menduga disana terdapat sebuah kontradiksi. Pada kenyataannya, sesungguhnya ayat-ayat di atas memutuskan apa yang telah kita katakan. Yaitu bahwa hanya Allah swt. sajalah yang merdeka di dalam melaksanakan segala sesuatu. Adapun alasannya yaitu-sebab yang lain, didalam melaksanakan perbuatannya, mereka semua bersandar dan berada di bawah naungan kekuasaan Allah swt.

Allah swt. telah meringkas pengertian ini didalam firman-Nya yang berbunyi :

وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللهَ رَمَى 

  Dan bukan kamu yang melempar ketika"  kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar." (QS. al-Anfal: 17)

Allah menyatakan bahwa Rasulallah saw. yang telah melempar, dengan kata-kata ketika kamu melempar. Namun pada dikala yang sama Allah swt. menyatakan Dirinya sebagai pelempar yang sesungguhnya, karena sesungguhnya Rasulallah saw. tidak melempar melainkan dengan kekuatan yang telah Allah berikan kepadanya. Sehingga dengan begitu, Rasulallah saw. ialah pelempar ikutan (bittaba')Dengan demikian kita dapat membagi perbuatan Allah kepada dua belahan:
Pertama;. Perbuatan dengan tanpa mediator (kunfayakun) Kedua;  Perbuatan dengan perantara.
Seperti Allah menurunkan hujan dengan perantaraan awan, menyembuhkan orang sakit dengan mediatoran obat-obatan, dan lain sebagainya. jika seorang manusia bergantung dan bertawassul kepada mediator-perantara ini, dengan keyakinan bahwa mediator-perantara tersebut tidak merdeka dan tidak terlepas dari kekuasaan Allah swt. maka dia itu seorang muwahhid (orang yang mengesakan Allah), namun jikalau sebaliknya, maka dia orang musyrik.

Apakah Kemampuan Atau Ketidak-mampuan Merupakan Tolok Ukur Tauhid Dan Syirik? 
Golongan Wahabi/Salafi mempunyai paham yang lain didalam kasus tauhid dan syirik, dan ini persis sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. Mereka tetapkan bahwa salah satu dari tolok ukur tauhid dan syirik ialah adanya kemampuan atau ketidak-mampuan orang yang di minta pertolongan untuk merealisasikan kebutuhan yang diminta. bila dia mampu maka tidak kasus, namun kalau tidak sanggup maka itu syirik. Sungguh ini merupakan kesalahan yang nyata. kasus ini sama sekali tidak mempunyai dampak didalam perkara tauhid dan syirik, melainkan hanya merupakan pembahasan perihal bermanfaat atau tidak bermanfaatnya permintaan.

Diantara orang-orang sekte Wahabi/Salafi ialah, mereka menghardik para peziarah Rasulallah saw. dengan mengatakan, “Hai musyrik, Rasulallah saw. tidak memberikan manfaat sedikitpun kepadamu”. Pikiran seakan-akan ini sangat naif sekali. Sesungguhnya masalah bermanfaat atau tidak, itu tidak memberikan pengaruh didalam masalah tauhid dan syirik.
Paham golongan Wahabi seakan-akan ini mengikuti doktrin Ibnul Qayyim –murid Ibnu Taimiyyah– yang menyampaikan: “Salah satu di antara bentuk syirik ialah meminta kebutuhan dari orang yang telah wafat, serta memohon pertolongan dan menghadap kepada mereka. Inilah asal mula syirik yang ada di alam ini. karena sesungguhnya orang yang telah wafat, telah terputus amal perbuatannya, dan dia tidak mempunyai sedikitpun kekuasaan untuk mendatangkan bahaya dan manfaat bagi dirinya.” (Fath al-Majid, Mufid bin Abdul Wahhab, hal.67, cetakan ke enam).    

Bagaimana mungkin permintaan sesuatu dari orang yang masih hidup dikatakan tauhid, sementara seruan sesuatu yang sama dari orang yang telah wafat dikatakan syirik?! terperinci, perbuatan yang semacam ini keluar dari kerangka pembahasan tauhid dan syirik, tetapi kita dapat meletakkannya kedalam kerangka pembahasan, apakah seruan ini memiliki kegunaan atau tidak berguna?  Dan seruan yang tidak berkhasiat pun tidak termasuk syirik. Sebagaimana yang telah diutarakan, sesungguhnya yang menjadi tolak ukur dasar didalam kasus tauhid dan syirik ialah keyakinan. Keyakinan disini bersifat mutlak. Tidak dikhususkan bagi orang yang hidup atau orang yang telah wafat.
Perkataan Ibnul Qayyim yang berbunyi; ‘Sesungguhnya orang yang wafat telah terputus amal perbuatannya’. Seandainya benar, itu tidak lebih mempunyai arti hanya menetapkan bahwa meminta dari orang yang mati itu tidak berkhasiat, namun tidak bisa menetapkan bahwa perbuatan itu syirik. Adapun perkataan dia yang berbunyi, ‘Orang yang telah wafat tidak memiliki sedikit pun kekuasaan untuk mendatangkan ancaman atau manfaat bagi dirinya’, ini ialah merupakan perkataan yang umum yang mencakup untuk semua manusia baik yang telah wafat maupun yang masih hidup. lantaran seluruh makhluk, baik yang hidup maupun yang mati, tidak memiliki sedikitpun ke kuasaan atas dirinya dan hanya mempunyai kekuasaan atas dirinya semata-mata dengan izin dan kehendak Allah.

0 Response to "Salafi/Wahabi dan bagaimana Fahamnya - Tolok ukur Tauhid Dan Syirik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel