tapi klw pendpt ane langsung (afwn ini cm sekedr pendpt aj),,Kapal Berlayar di bahari,dr sgi makna: kapal=diri kita
berlayar=pencarian (yg ini min ayyil jihhah ye laysa bi jihatin wahidah,makna'e luas menckup seluruh aspek)
di laut:samudera kehidupan yg kita jalani,,jd dri segi hakikat Kapal
Berlayar Dilaut sebuah pencarian seorng insan di dalam samudera
kehidupan,,arti'e hidup it adl "pencarian/mencari",,
pecarian
jati diri ("syp sy dn hrus ap"),,mencari ilmu,,mencari bekal untk
akhirat,,mencari...dn mencari..namun betapapun kita mencari dn apa
pun,dn berapa pun it tempt kembli'e tetplah 1 y/kehadirat tuhan Robbi...
tafadhal ustad d jelaskn dn ap kaitn'e m per ane,,
kita mulai dari penejelasn sebelumnya aku juga pengen tau dari para
ustadz dan ustadzah ttg istilah "KAPAL BERLAYAR DI maritim"karena kita
berbeda2 gurunya niscaya berbeda dalam penyampainya dan saya pengen
menampilkan dlu pendapat2 beliau ini
yaitu dia:berpendapat..
1.akhina Ari Yanto Teh Baerut berpendapat khdpn kita tad...itu berdasarkan ari.
2.bib Ivan Madinah berpendapat :Artinya kl mau mendpatkan mutiara,, hrs
melalui lautannya maksudnya dia:Maknanya luas tuh pertanyaan....
Kl larinya ketauhid,ilmu Allah itu luas bagaikan baharian yg tak
berpantai,dan kapalnya kita sendiri supaya sll berlayar mengarungi luasnya
maritiman(ilmu)
Kl sdh lari kehakikat,tasyawuf,marifat... Wahhh... Makin panjang ^_^
Marifat,tasawuf tauhid secara gamblang sama can.... Tp kan ttp aja
perlu perpaduan dan tdk bisa salah satunya aja yg dipake/didalamin,,dan
pelajarnya kan masing2 ada,wlpn saling berkaitan....akkhhh... Ente yg
jelasin dah can,,,ana jd pendengar sekalian mau nyerap ilmu,,,
^_^
dan menurut potinganya ia yaitu Merujuk keulama aja dah....
Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad
menegaskan bahwa “kelompok yang
benar adalah kelompok Asy’ariyah
yang dinisbatkan kepada Imam
Asy’ari. Aqidahnya juga aqidah para
teman dan tabi’in, aqidah ahlul
haqq dalam setiap masa dan tempat,
aqidahnya juga menjadi aqidah kaum
sufi sejati. Hal ini sebagaimana
diceritakan oleh Imam abul Qasim al-
Qusyayri. Dan Alhamdulillah
aqidahnya juga menjadi aqidah kami
dan saudara-saudara kami dari
kalangan habaib yang dikenal
dengan keluarga debu Alawi, juga
aqidah para pendahulu kita.
Kemudian dia melantunkan satu
bait sya’ir:
ﻭﻛﻦ ﺃﺷﻌﺮﻳﺎ ﻓﻲ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩﻙ ﺇﻧﻪ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻨﻬﻞ
ﺍﻟﺼﺎﻓﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻳﻎ ﻭﺍﻟﻜﻔﺮ
“Jadilah pengikut al Asy’ari dalam
aqidahmu, lantaran pedomannya adalah
sumber Ɣªήğ higienis dari kesesatan dan
kekufuran”.
3.uhkty Ika Maniezs berpendapat : kehidupan yg qta jlani di umpamakan
sprti berlyar diatas bahari qta ga pernah tau kpan angin tertiup kenceng n
ombaknua akn biasa sj ato justru mlah ada angin kencang Sekolah Menengan Atas kan ky khdupan qta
gatau apa yg sudah digariskan Allah hdup ntu gakan selamanya indah pasti
akn ada saat nya qta hrus diterpa cobaan #itu pndpat ku mna pndpat mu
:)
4.bpk besar lengan berkuasa Maryoto beropini : Kita adalah penumpang
sedang kapal itu Islam dan nahkodanya iktikad sdg baharian adalah keadaan
setiap ketika, ditengah laut hrs menyelam dgn meninggalkan semua atribut
kita/ikhsan sehingga mdpt mutiara/ Insan kamil lanjut perjalanan dgn
Istikomah menuju Al Haq. He he he salah kali ya bib,.
5.ustadz
Bayou Nur Bayou berpendapat :Setau ane biasanya yang suka digambarkan
dengan perahu itu bekerjasama dengan Tashowwuf (Ilmu Batin/Hakikat).
DIGAMBARKN: Syari'at diibaratkan sebuah bahtera yang mampu menjadi
alat berlayar di lautan. Thoriqoh di ibaratkan maritiman yang ada
mutiaranya. Dan mutiara itu yaitu Hakikat yang dicari dalam Thoriqoh.
yakni barang siapa yang mencari Mutiara (Hakikat) di dalam maritiman
(Thoriqoh) supaya lebih dulu memperbaiki perahu (Syari'at) nya. lantaran
jika bahteranya rusak tentu akan tenggelam ke dalam maritiman dan tak akan
menemukan hakikat, bahkan mampu tersesat dan menyesatkan karena merasa
bahwa dirinya sudah baik.
Kalau maksudnya berafiliasi dengan
tashowwuf mungkin begitu kali ya gambarannya... Hehee... Maaf bib, ane
juga masih belajar...
komentar saya:
nahh..
dari pendapat-pendapat beliau2 diatas pada hakikat nya sama dan aku
setuju semua pendapat diatas tp aku langsung lebih condong ke pendapat
nya bib ivan dan stadz Bayou dan pendapat anda (ustdzahLayLa Syarifah
Al-Aththas) karena sama kaya pendapat aku tapi sedikit berbeda yaitu :
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu
Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma
ba’du… sya sependapat dngn imam nawawi lantaran memang dia salah satu
silsilah guru saya pendapat dia imam Nawawi yaitu mengibaratkan
syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat
merupakan intan dalam maritiman yang mampu diperoleh dengan kapal berlayar
di laut. Dalam proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat
merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i) seorang sufi, sementara
hakikat yaitu hasil dari syariat dan tarikat. Pandangan ini
mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat
selama tarekat tersebut tidak mengajarkan hal-hat yang bertentangan
dengan pedoman Islam, syariat.Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang
lebih banyak porsinya dalam menyadur teori-teori genostik Ibnu Arabi,
dan syekh Nawawi justru menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat
dan syariat. Dalam formulasi pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya
perpaduan antara fiqh dan tasawuf. Ia lebih Gazalian (mengikuti
Al-Ghazali) dalam hal ini. Dalam kitab tasawufnya Salalim al-Fudlala,
terlihat Nawawi bagai seorang sosok al-Gazali di masa modern. Ia lihai
dalam mengurai kebekuan dikotomi fiqh dan tasawuf. Sebagai pola dapat
dilihat dari pandangannya perihal ilmu alam lahir dan ilmu alam batin.
Ilmu lahiriyah mampu diperoleh dengan proses ta’allum (berguru) dan
tadarrus (belajar) sehingga mencapai derajat ‘alim sedangkan ilmu batin
dapat diperoleh melalui proses dzikr, muraqabah dan musyahadah sehingga
mencapai derajat ‘Arif. Seorang Abid dibutuhkan tidak hanya menjadi
‘alim yang banyak mengetahui ilmu-ilmu lahir saja tetapi juga harus
arif, memahami diam-diam spiritual ilmu batin. Bagi Nawawi Tasawuf berarti
pelatihan etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa
penguasaan ilmu batin akan berakibat terjerumus dalam kefasikan,
sebaliknya seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa
dibarengi ilmu lahir akan terjerumus ke dalam zindiq. Makara keduanya
tidak mampu dipisahkan dalam upaya training etika atau moral (Adab),
kesimpulan: nah semua itu maksud dari AQIDAH DAN AKHLAK ustdzah LayLa
Syarifah Al-Aththas lantaran AKHLAK TANPA AQIDAH akan menjadi kefasikan
dan sebaliknya AQIDAH TANPA AKHLAK akan menjadi zindik,,,kesimpulan
BAHWA AQIDAH DAN AKHLAK SALING BERKAITAN periodeT lantaran upaya dalam
beretika atau moral.ustdzah..wallohualam bishoab,,,syukron katsr..maav
klw ada salah2 kata dalam penulisan semata-mata sifat langsung manusia tp
apa yang telah saya sampaikan semata-mata ingin berbagi semoga alloh
merahmati kita semua nya aminn,,,yaa robbal alaimin..^_^
0 Response to "Tanya - Jawab : Islam"
Post a Comment